AJI Bandar Lampung Sesalkan Wartawan Main Proyek

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung menyesalkan oknum wartawan yang turut “bermain” proyek.

AJI Bandar Lampung Sesalkan Wartawan Main Proyek
Istimewa
Ketua AJI Bandar Lampung Hendri Sihaloho (kiri) menyayangkan ada oknum wartawan yang ikut main proyek di Mesuji. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung menyesalkan oknum wartawan yang turut “bermain” proyek.

Beberapa nama wartawan disebut dalam sidang perkara dugaan suap fee proyek Mesuji di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Kamis, 11 Juli 2019.

Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho mengatakan, pihaknya menyesalkan perilaku oknum wartawan yang turut “bermain” proyek tersebut.

"Seharusnya mereka tidak ikut, apalagi sampai terlibat. Sebaliknya, wartawan mesti mengawasi pelaksanaan sebuah proyek agar tidak menyimpang, terlebih itu memakai uang rakyat," ungkap Hendry, Jumat, 12 Juli 2019.

Menurut Hendry, oknum jurnalis yang main proyek bukan saja mencoreng profesi pewarta, tapi juga melanggar Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Hendry menyebutkan, dalam Pasal 6 KEJ disebutkan bahwa wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.

"Penafsirannya, menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum," katanya.

Demi Proyek Miliaran, Oknum Wartawan Disebut Catut Nama Plt Bupati Mesuji

Hendry-Dian Pimpin AJI Bandar Lampung Periode 2019-2022

"Sedangkan suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang memengaruhi independensi," imbuhnya.

Hendry memandang, oknum wartawan yang main proyek, memeras, atau melakukan perbuatan tak patut lainnya sama saja tidak menghormati pekerjaannya.

"Ia justru melecehkan profesinya sendiri. Tindakan demikian semakin memperburuk citra wartawan di masyarakat. Padahal, kita yang bekerja sebagai juru warta punya tanggung jawab secara moral untuk memperbaiki image buruk tersebut," tegasnya.

Hendry menuturkan, dalam elemen-elemen jurnalisme, elemen yang kelima adalah memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas.

"Artinya, ketika wartawan melaksanakan tugasnya, ia memosisikan diri sebagai pemantau kekuasaan. Analoginya sederhana, karena kekuasaan itu cenderung korup, maka mesti dipantau," ucapnya.

"Jurnalis seharusnya menjalankan mandat ini, bukan malah berselingkuh dengan kekuasaan, seperti main proyek. Lebih dari itu, memantau kekuasaan bagian dari upaya memperkuat demokrasi," tambahnya.

Hendry mengimbau teman-teman wartawan untuk bekerja profesional sesuai KEJ.

"Mari bersama-sama menjaga muruah dan independensi sebagai jurnalis. Inilah saatnya membangun kredibilitas dan integritas sebagai juru warta," tandasnya. (Tribunlampung.co.id/Hanif Mustafa)

Penulis: hanif mustafa
Editor: Daniel Tri Hardanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved