UM Metro

Mahasiswa UM Metro Panen Sayur Bersama Petani Karang Rejo

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro Panen Sayur Bersama Petani Karang Rejo

Mahasiswa UM Metro Panen Sayur Bersama Petani Karang Rejo
Ist
Mahasiswa UM Metro Panen Sayur Bersama Petani Karang Rejo 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Mahasiswa PLP II Terpadu FKIP Universitas Muhammadiyah Metro, turut serta  membantu memanen sayuran di areal perkebunan petani Karang Rejo, Metro Utara, Kota Metro, Rabu (17/7/2019).

Mahasiswa UM Metro Panen Sayur Bersama Petani Karang Rejo
Mahasiswa UM Metro Panen Sayur Bersama Petani Karang Rejo (Ist)

Nawal Sartika Sari, atas nama kelompok PLP II Terpadu di Kelurahan Karang Rejo bercerita, kegiatan Rabu sore (17/7) sebenarnya bukan hanya sebatas membantu masyarakat memanen sayuran, tetapi ia beserta puluhan rekannya beralasan ingin mendalami teknik membudidaya berbagai jenis sayuran yang sudah lama ditekuni oleh masyarakat setempat.

“Ketertarikan kami tidak hanya untuk membantu memanen saja, namun juga ingin mengetahui bagaimana cara bertani yang baik dan benar,” ungkap Nawal Sartika Sari, di lokasi kebun sayuran petani Karang Rejo.

Lebih jauh, Nawal juga berkisah tentang obrolannya bersama Enok, petani yang berhasil ditemuinya saat memanen sayuran.

“Proses pemanenan kangkung cabut dilakukan sore hari supaya tetap segar ketika dijual keesokan harinya.

Biasanyak, kangkung dipanen pada umur 20 hari setelah ditanam, kalau lewat dari waktu itu kangkung tidak layak panen karena batangnya sudah mengeras dan tidak laku dipasaran,” ucap Nawal menirukan Enok.

Melihat kondisi demografinya, mayoritas masyarakat Karang Rejo memang berprofesi sebagai petani. Berbagai jenis sayuran seperti Kangkung Cabut, Selada, Sawi, Daun Bawang serta Kemangi sudah lama menjadi jenis sayuran yang dibudidayakan oleh masyarakat setempat.

Hasil panen sayuran biasanya dijual kepengepul di daerah Karang Rejo. Namun, bila tidak ada kecocokan harga atau pengepul setempat tidak bisa menampung, petani akan menjualnya ke  berbagai pasar yang ada disekitar Kota Metro.

Selain itu, cuaca yang tidak menentu dan harga yang tergolong murah juga memberi pengaruh tersendiri. Melihat kondisi ini, UM Metro mencoba menjadi mitra dengan menawarkan berbagai solusi seperti budidaya sayuran secara organik.

“Sayuran yang ditanam di sini memang belum sepenuhnya organik, namun setelah adakerjasama antara UM Metro dengan Kelompok Tani Karang Rejo, terjadi peningkatan pada perekonomian dan mutu pangan masyarakat setempat,” ujar Nawal.

Perlu diketahui, satu ikat kangkung dari petani saat ini dihargai tujuh ratus (700) rupiah. Harga ini tergolong murah dan tidak sebanding dengan ongkos penanaman hingga panen.

“Murah memang harga sayurannya, tapi saya akan tetap bertani kalo tidak bertani saya tidak bisa makan. Orang bertani harus telaten dan ulet, karena dari awal pendapatannya tidak seberapa, tapi kalau ditekuni ya pasti bisa sukses, siapa yang menanam dia akan memetik hasilnya,” ungkap Enok. (*)

Penulis: Advertorial Tribun Lampung
Editor: Advertorial Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved