Deklarasi Lampung Ibu Kota Negara dan Kisah Gerilya Tiga Saudara

Ada tiga orang yang menjadi motor relawan ini. Mereka adalah Dr Andi Desfiandi Alfian SE MA, Ary Meizari Alfian SE MB dan Ir Firmansyah MBA MSc.

Deklarasi Lampung Ibu Kota Negara dan Kisah Gerilya Tiga Saudara
Tribun Lampung/Deni Saputra
Deklarasi DKI Lampung di GSG Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung, Kamis (25/7/2019). Seluruh rektor perguruan tinggi negeri dan swasta se-Provinsi Lampung beserta elemen masyarakat mendukung Lampung sebagai ibu kota RI. 

Gerakan Lampung Ibu Kota Negara dan Kisah Gerilya Tiga Saudara

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika perjuangan menjadikan Lampung sebagai alternatif ibu kota negara, pada akhirnya berbentuk sebuah gerakan masif yang melibatkan semua elemen masyarakat. Padahal, pada mulanya, ini hanya kerja relawan yang tergabung oleh semangat yang sama, yakni keinginan melihat Lampung lebih maju dan lebih berjaya.

Dalam kegiatan deklarasi dan penyerahan hasil kajian tentang kelayakan Lampung menjadi ibu kota negara, yang digelar di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan, Kota Bandar Lampung, Kamis (25/7/2019), semua elemen masyarakat, termasuk para rektor, tokoh adat, pengusaha, wakil rakyat, dan pemerintah bersepakat dan menyatu dalam sikap yang sama: Lampung ibu kota negara adalah keniscayaan.

Siapa di belakang gerakan ini? Mereka menamakan diri Tim Relawan DKI Lampung. DKI merupakan akronim dari Daerah Khusus Ibu Kota, mengacu pada status DKI Jakarta. Siapa saja anggotanya? Banyak, dan setiap orang menjadi anggota, yang penting punya keinginan yang sama dan memperjuangkan hal yang sama.

VIDEO - Deklarasi DKI Lampung oleh Para Tokoh dan Seluruh Rektor Se-Lampung di UIN Raden Intan

Deklarasi DKI Lampung di UIN Raden Intan Lampung Diwarnai Unjuk Rasa

Sejatinya, ada tiga orang yang menjadi motor relawan ini. Dan, mereka adalah tiga bersaudara, Dr Andi Desfiandi Alfian SE MA, Ary Meizari Alfian SE MBA, dan Ir Firmansyah Yunialfi MBA MSc. Ketiganya adalah tokoh pendidikan yang mengelola Yayasan Alfian Husin, satu di antara lembaga yang dikelolanya adalah peguruan tinggi Darmajaya. Andi dan Ary di yayasan, sedangkan Firmansyah menjadi rektor.

Dalam gerakan relawan ini, Andi dan Ary banyak bergerak di lapangan, sedangkan Firmansyah di belakang layar. Mereka bersama relawan lain, di antaranya Achmad Muslimin, Dedi Rochman, dan Mujamil, melakukan gerilya ke berbagai kalangan untuk menggalang dukungan dan menyatukan sikap.

Tentu tak hanya mereka berenam yang menjadi pentolan relawan. Ada anggota DPR RI Azis Syamsuddin sebagai Ketua Tim Relawan, ada pula Ginta Wiryasenjaya (pengusaha) maupun Bustami Zainuddin (anggota DPD terpilih) yang ikut membackup bersama sejumlah tokoh lainnya.

Dalam WhatsApp Group yang dibentuk, bergabung para guru besar, pejabat pemerintah, hingga anggota DPR RI. Ada juga pengusaha sekelas Erick Thohir, Ketua MPR Zulkifli Hasan, hingga staf ahli Kapolri Irjen Pol Ike Edwin. WA Group pun tidak satu: ada Tim Inti DKI Lampung, FGD DKI Lampung, hingga Media Center DKI Lampung.

Pertanyaan mendasar, dari mana biaya untuk melakukan gerakan masif ini, termasuk acara deklarasi di UIN? Andi Desfiandi mengungkap, mereka merogoh kocek sendiri, saling membantu satu sama lain. Ongkos pesawat ke Jakarta untuk melakukan lobi pun ditanggung masing-masing yang berangkat.

Elemen Masyarakat dan Rektor se-Lampung Bersatu Deklarasi DKI Lampung Hari Ini

"Kami ikhlaskan perjuangan ini. Tak ada tendensi, tak ada kepentingan ekonomi di baliknya," kata Ary, belum lama ini. Mereka tak menguasai lahan di kawasan yang dicalonkan menjadi ibu kota. Mereka juga tak mengkapling tender pembangunan gedung apapun jika kelak perjuangan berhasil.

"Lampung kebanggaan kita, kalau menjadi ibu kota maka kita semua yang akan menikmati dampak pembangunannya," ujar Andi Desfiandi.(*)

Penulis: Andi Asmadi
Editor: Andi Asmadi
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved