Editorial Tribun Lampung
Mengapa Tribun Salah Memberitakan?
Mereka berhasil menyalakan dan merawat api harapan, semangat, dan cinta pada begitu banyak orang, yang mungkin tidak ada lagi pada hati sebagian orang
Mengapa Tribun Salah Memberitakan?
Editorial Tribun Lampung
PERJUANGAN Tim Relawan DKI Lampung untuk menjadikan Lampung sebagai ibu kota negara cukup gencar diberitakan di Tribun Lampung.
Dan, mungkin karena itu, ada yang mengirim pesan: peluang Lampung sangat kecil, bahkan sudah tertutup, mengapa Tribun justru mendukung dan malah beberapa kali menjadikannya berita utama, apakah Tribun tidak takut ditinggalkan pembacanya karena salah memberitakan?
Pengirim pesan tersebut adalah orang awam terhadap proses kerja jurnalistik dan karena itu bisa dimaklumi dia melontarkan pendapat seperti di atas.
Sebenarnya tidak salah-salah amat, dan mungkin ada sejumlah orang yang sependapat dengannya, yang pada intinya tidak memiliki harapan Lampung menjadi ibu kota negara.
Harapan. Itulah kata kunci pertama dari proses kerja jurnalistik yang dilakukan Tribun dengan cukup gencar memberitakan hal-hal yang terkait perjuangan Tim Relawan DKI Lampung.
Harapan harus ada dan tumbuh pada setiap manusia manakala ia ingin tetap disebut sebagai manusia. Pada kelompok, harapan itu juga harus ada dan menjadi tujuan bersama manakala ingin kelompok tetap eksis dan berkembang.
Harapan tentu tak cukup. Kata kunci kedua adalah semangat. Tanpa semangat, manusia hanya akan menjadi robot yang bergerak secara rutin tanpa gelora. Pada Tim Relawan, semangat itu justru berkobar-kobar.
Lalu, kata kunci ketiga adalah cinta. Kecintaan kepada Lampung pasti ada pada siapapun dia yang berasal dari Lampung, maupun yang tidak lahir di Lampung namun telah menjadi orang Lampung. Cinta kepada tanahnya, alamnya, cinta kepada orang-orangnya, budayanya.
Tribun melihat aksi yang dilakukan oleh Tim Relawan DKI Lampung, yang di dalamnya bergabung begitu banyak orang dari berbagai kalangan dan profesi, pada dasarnya adalah perwujudan dari harapan, semangat, dan cinta dalam bingkai Lampung menjadi ibu kota negara.
Tak ada tendensi atau kepentingan dengan motif ekonomi orang per orang atau kelompok di dalamnya.
Mereka memperjuangkan sesuatu yang lebih besar yang mungkin tidak pernah dimimpikan banyak orang, dengan tetap berada dalam sistem dan koridor yang benar.
Peluangnya kecil, bahkan mungkin sudah tertutup. Bisa jadi betul. Tapi, sekali lagi, harapan, semangat, dan cinta terhadap Lampung harus dijaga agar tidak pernah padam.
Bisa saja perjuangan Tim Relawan DKI gagal, tetapi mereka telah berhasil menyalakan dan merawat api harapan, semangat, dan cinta pada begitu banyak orang, yang mungkin tidak ada lagi pada hati sebagian orang.
Pada titik ini, tentu saja Tribun tidak salah memberitakan.(****)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/editorial-2-agustus-2019.jpg)