Tribun Lampung Selatan

IRT Keluhkan Kelangkaan dan Mahalnya Harga Gas Elpiji 3 Kg, Tembus Rp 27 Ribu per Tabung

IRT Keluhkan Kelangkaan dan Mahalnya Harga Gas Elpiji 3 Kg, Tembus Rp 27 Ribu per Tabung

IRT Keluhkan Kelangkaan dan Mahalnya Harga Gas Elpiji 3 Kg, Tembus Rp 27 Ribu per Tabung
Tribunlampung/Dedi
Ilustrasi - Warga Antri Gas Elpiji 3 KG di Way Panji 

Laporan Wartawan Tribunlampung Dedi Sutomo

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KALIANDA – Banyaknya petani yang juga memanfaatkan gas elpiji 3 kilogram untuk bahan bakar mesin sedot air, membuat warga kini mulai kesulitan mendapatkannya.

Dari pantauan tribun di beberapa kecamatan, kini harga gas elpiji 3 kilogram ditingkat pengecer mencapai Rp 27 ribu pertabung. Itu pun tidak jarak di pengecer keberadaan gas elpiji 3 kilogram habis.

“Sudah lebih dari dua pekan ini gas elpiji mulai agak susah didapatkan. Harganya juga mahal,” terang Ika, seorang ibu rumah tangga di desa Sidomakmur kecamatan Way Panji, jumat (2/8).

Dirinya mengatakan, bila biasanya di beberapa warung didekat rumahnya yang juga menjadi pengecer, gas elpiji 3 kilogram cukup mudah didapatkan. Saat ini tidak jarang dirinya harus ke desa sebelah untuk mendapatkan gas 3 kilogram.

Menurut para pedagang pengecer saat ini mereka juga kesulitan untuk mendapatkan gas elpiji 3 kilogram dari agen.

Kondisi yang sama juga dialami oleh warga di kecamatan Bakauheni. Para ibu rumah tangga di kecamatan tersebut kini mengeluh sulitnya untuk mendapatkan gas elpiji ukuran 3 kilogram.

“Sudah sulit harganya juga jauh dari normal biasanya. Kalau biasanya Rp 22 ribu pertabung. Sekarang Rp. 27 ribu pertabung,” kata Sari, seorang ibu rumah tangga di Bakauheni.

Kondisi kelangkaan gas elpiji 3 kilogram ini memang kerap terjadi ketika musim kemarau seperti sekarang. Karena selain untuk pemakaian oleh rumah tangga, banyak juga petani yang memanfaatkan gas elpiji sebagai bahan bakar untuk mesin menyedot air guna mengairi sawah mereka.

“Kita terpaksa menggunakan gas elpiji, karena biayanya lebih murah jika dibandingkan kita menggunakan premium sekalipun. Kalau kita tidak sedot air, kita tidak tanam. Tidak panen padi, nantinya juga kan beras mahal,” ujar Darto, seorang petani di kecamatan Palas.

Menurutnya, jika petani tidak bisa menggunakan gas elpiji. Kemungkinan akan sulit untuk tanam pada musim gadu (kemarau). Untuk membeli premium, selain harganya yang jauh lebih mahal. Juga tidak mudah pula didapatkan.

“Nanti kita beli premium dalam jumlah banyak dikatakan melakukan penimbunan. Kalau kita tidak tanam, tidak ada panen padi. Beras mahal, petani yang disalahkan,” tandasnya.

(Tribunlampung.co.id/dedi sutomo)

Penulis: Dedi Sutomo
Editor: Reny Fitriani
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved