AJI Bandar Lampung Helat Penghargaan Saidatul Fitriah 2019

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandar Lampung kembali akan memberikan Penghargaan Saidatul Fitriah dan Kamaroeddin.

AJI Bandar Lampung Helat Penghargaan Saidatul Fitriah 2019
Istimewa
Logo Aliansi Jurnalis Independen 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandar Lampung kembali akan memberikan Penghargaan Saidatul Fitriah dan Kamaroeddin. Pemberian dua penghargaan ini dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun ke-25 AJI.

Penghargaan Saidatul Fitriah diberikan kepada jurnalis dengan karya jurnalistik yang berdampak positif terhadap kehidupan demokrasi.

Sementara Penghargaan Kamaroeddin diberikan kepada orang atau lembaga nonjurnalis yang dinilai konsisten memperjuangkan kebebasan pers, demokrasi, dan hak asasi manusia.

Dua penghargaan tersebut sebagai bentuk apresiasi AJI.

“Penghargaan Saidatul Fitriah dan Kamaroeddin digelar sejak 2008," kata Faiza Ukhti Annisa, ketua pelaksana HUT ke-25 AJI melalui siaran pers, Minggu (4/8/2019).

Peserta penghargaan ini adalah jurnalis media cetak, online, radio, dan televisi.

Peserta dipersilakan mengirim karya jurnalistik yang telah dimuat di media masing-masing. Karya jurnalistik itu diterbitkan dalam rentang Agustus 2018 hingga Agustus 2019. Batas waktu pengiriman karya jurnalistik hingga 17 Agustus.

“Kami berharap banyak jurnalis di Lampung mengirimkan karya terbaiknya. Terutama, jurnalis radio dan televisi. Melalui Penghargaan Saidatul Fitriah, AJI Bandar Lampung ingin mendorong kemajuan jurnalisme di Lampung,” jelas Faiza.

Ia menambahkan jurnalis yang ingin berpartisipasi harus mengirim bukti tayang karya (pdf) atau tautan berita dalam soft file (MS Word). Pengiriman melalui email ke awardsaidatul@gmail.com cc sekretajilpg@gmail.com.

“Pengiriman karya bisa diwakilkan perusahaan media atau perorangan. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak bisa diganggu gugat,” ujar Faiza.

Saidatul Fitriah adalah pewarta foto Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung. Ia meninggal dunia pada 3 Oktober 1999.

Mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini terluka berat di bagian kepala saat meliput bentrokan aparat dengan ribuan mahasiswa, yang dikenal sebagai peristiwa 'UBL Berdarah' atau 'Tragedi UBL'.

Sedangkan Kamaroeddin adalah pelopor pers di Lampung. Kamaroeddin gelar Soetan Ratoe Agoeng Sampoernadjaja merupakan pendiri Fajar Soematra pada 1930-an dan Lampoeng Review (1933-1937). Rekan Proklamator RI Soekarno di Penjara Sukamiskin, Bandung, pada 1927, itu masuk penjara akibat tulisannya mengenai keinginan masyarakat Lampung memisahkan diri dari Sumatra Selatan di Harian Indonesia Raya pada 1957. 

(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)

Penulis: Bayu Saputra
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved