UM Metro

Wakil Rektor IV UM Metro Dukung Sentra Sayur Mayur di Karangrejo

Wakil Rektor Bidang Al Islam Kemuhammadiyahan dan Kerjasama UM Metro Dr. M. Ihsan Dacholfany hadiri pembukaan sentra sayur mayur,

Wakil Rektor IV UM Metro Dukung Sentra Sayur Mayur di Karangrejo
Ist
Wakil Rektor IV UM Metro Dukung Sentra Sayur Mayur di Karangrejo 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Wakil Rektor Bidang Al Islam Kemuhammadiyahan dan Kerjasama UM Metro Dr. M. Ihsan Dacholfany hadiri pembukaan sentra sayur mayur, di Kelurahan Karangrejo, Metro Utara, Kota Metro, Selasa (06/8/2019).

Membawa nama lembaga Universitas Muhammadiyah Metro, Dr. Ihsan mengaku tersanjung bisa hadir di tengah-tengah masyarakat Karangrejo.

“Sungguh membahagiakan tahun ini UM Metro bisa hadir membersamai masyarakat Karangrejo, baik dalam konteks KKN/program lapangan pra sekolah maupun dalam bentuk pengabdian masyarakat dengan skema Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) yang bersinergi hingga saat ini,” ungkapnya.

PPUPIK sesuai namanya bertujuan hilirisasi/mengabdikan temuan dan inovasi intelektual yang berupa starter/biang untuk pembuatan pupuk organik, yang selanjutnya disebut PUMAKKL (bahasa lampung yang berarti Biang).

Berawal dari temuan bpk Dr. Agus Sutanto yang berhasil mengultur bakteri pengurai yang ada di limbah cair nanas PT Great Giant Pineaple (umas jaya), kemudian bakteri tersebut didayagunakan untuk menguraikan kompos berbagai bagian tanaman, khususnya daun dan ranting.

Bakteri temuan  Dr. Agus telah memperoleh dua paten dan telah diaplikasikan untuk pengomposan dan penyubur tanaman, baik dalam bentuk penelitian skripsi, tesis, maupun pengabdian berupa pengomposan kulit kopi di kecamatan Air Hitam Lampung Barat.

"Setelah dua tahun mengadakan pengabdian masyarakat Lampung barat, kami berpikir tahun 2019 saatnya  kembali ke kampung halaman, Metro. Maka, mulailah kami bersama kelompok tani Hijau Daun Karangrejo membuat kompos berbahan sisa tanaman yang ada disekitar rumah para petani, kotoran kambing, dan tentu saja ditambah pumakkal sebagai starter agar proses pengomposan berlangsung lebih cepat dan pupuk yang dihasilkan berkualitas bagus," ujar Agus.

Agus mengatakan, mencoba pupuk tersebut pada berbagai tanaman sayur di lahan yang sudah dikondisikan untuk meminimalisir bahan kimia yang bisa mencemari sayuran.

'Dan alhamdulillah hasil tidak mengecewakan, silakan nanti bapak walikota dan hadirin melihat langsung hasilnya dan wawancara dengan petani. Bahkan dari hasil testimoni ibu-ibu yang sudah membeli sayur yang kami tanam bersama kelompok tani hijau daun lebih memiliki daya simpan yang lama. Baik dimasukan kulkas maupun tidak. Tetap fresh lebih lama," ujar Agus dengan semangat.

Pertanian organik, menurut Agus, tidak dimaksudkan untuk meniadakan pertanian non organik, tetapi untuk tujuan komplementer, dan saling melengkapi.

"Misalnya, ketika petani kesulitan mendapatkan pupuk sintetis/kimia, baik karena harga mahal atau langka, maka petani tidak usah bingung, karena pupuk organik yang kami buat sudah memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan yang relatif sama. Sama-sama siap dipanen saat usia 28 hari. Kemudian, sayuran organik diharapkan dapat mengangkat harga sayuran secara keseluruhan," ujar Agus.

Menurut Agus, harga jual sayur petani saat ini adalah 300 rupiah, harga yang tidak layak jika dilihat secara ekonomi. Sedangkan, kelompoknya memasarkan sayur organik hijau daun di pasar dengan harga 2500 hingga 3000 rupiah setiap Minggu pagi. Pembeli adalah pengunjung kebun agrowisata,  karyawan dan dosen UM. Dengan adanya alternatif pemasaran yang seperti itu, akan muncul daya tawar bagi petani. Daripada hanya satu jalur (monopoli) pemasaran yang membuat petani tidak memiliki daya tawar.

"Kami sudah mencoba berbuat yang kami mampu, khususnya disektor hulu yaitu proses pembuatan pupuk organik, petani pada sektor tengah (on farm), maka saatnya semua pihak, khususnya bapak walikota dan jajaranya: dinas pertanian dan perdagangan untuk memikirkan dan bertindak nyata mencarikan pasar bagi para petani sayur. Begitu juga pihak BRI. Karena disinilah sekarang titik kritisnya bagi dunia pertanian sayur. Bayangkan harga 300 rupiah menunggu selama 28 hari dengan modal pupuk dan obat-obatan yang tidak sedikit. Petani kuat, Masyarakat Kuat;  Sayuran sehat, masyarakat sehat. Semoga," tutup Agus. (*)

Penulis: Advertorial Tribun Lampung
Editor: Advertorial Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved