Tribun Bandar Lampung

BREAKING NEWS - Kemenkumham Komentari Pernyataan Jefri Susandi, 'Jika Memang Benar, Dibuktikan Saja'

Pihak Kemenkumham Provinsi Lampung mempersilahkan kepada pihak BNN untuk dapat membuktikan kebenaran terkait pengakuan tersangka Jefri Susandi (41).

BREAKING NEWS - Kemenkumham Komentari Pernyataan Jefri Susandi, 'Jika Memang Benar, Dibuktikan Saja'
Tribun Lampung/Deni Saputra
BNNP Lampung menghadirkan empat tersangka pengedar dan bandar sabu, Kamis, 15 Agustus 2019. Mereka adalah (ki-ka) Zawil Qiram, Silman, Ade Irawan, dan Jefri Susandi. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Eka Ahmad Sholichin

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Pihak Kemenkumham Provinsi Lampung mempersilahkan kepada pihak BNN untuk dapat membuktikan kebenaran terkait pengakuan tersangka Jefri Susandi (41), yang mengaku sempat memasok narkoba ke lapas-lapas di wilayah Lampung.

Hal tersebut diungkapkan Kasubag Humas, Reformasi Birokrasi dan Teknologi Informasi Kanwil Kemenkumham Provinsi Lampung Erwin Setiawan saat dihubungi, Jumat (15/8/2019).

"Jika memang benar seperti itu dibuktikan saja. BNN kan bisa menelusuri pemasokan kemana dan siapa yang menerima bisa digali dari si pelaku," terangnya.

Menurutnya, pihak Kemenkumham Provinsi Lampung terbuka dan bekerjasama dengan instansi penegak hukum yang lain.

"Iya silahkan ditindak oleh BNN jika terbukti karena secara hukum pidana BNN yang menangani. Kalau kita kan secara administrasi saja dan hukuman disiplin jika terbukti sampai ada oknum di lapas yang terlibat juga," tuturnya.

"Tingkatan hukuman disiplin kepada oknum jika memang benar ada yang terlibat. Itu dilihat dari keterlibatan si oknum dan itu bisa sampai pemecatan," sambungnya.

Lanjut Erwin menuturkan pihaknya juga melakukan berbagai upaya untuk menekan peredaran narkoba di lingkungan lapas misal dengan rutin melaksanakan razia di dalam lapas.

"Kantor wilayah selalu melakukan razia ke dalam dan tes urine untuk pegawai juga sering. Itu sifatnya insidentil (mendadak) saja," paparnya.

BREAKING NEWS - Sosok Kontroversi Jefri Susandi, Bandar Sabu dan Pengusaha Angkot yang Rajin Ibadah

Kegiatan monitoring peredaran narkoba yang dilakukan lewat tes-tes urine tersebut.

"Kan gak cuman petugas saja tapi juga warga binaan pemasyarakatan (WBP) narapidana," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Bos Angkot Jefri Susandi (41) mengaku baru jalani bisnis haramnya selama tiga tahun ini.

"Saya baru jalani tiga tahun, sejak 2016," ungkapnya, Kamis 15 Agustus 2019.

Jefri pun mengaku sebagai residivis dalam perkara serupa.

"Pernah masuk di Wayhuwi, vonis 6 tahun, keluar 2014," terangnya. Jefri pun mengakui jika anaknya disekolahkan di Pondok Pesantren di Pandeglang Banten.

"Di Ponpes Banten, saya masukin ponpes karena saya gak mau anak saya seperti saya," kilahnya.

Jefri pun mengakui kesalahannya dan sangat menyesal atas perbuatannya. "Saya itu tergiur atas keuntungannya," ucapnya.

BREAKING NEWS - Sudah Punya Usaha Angkot, Jefri Tergiur Keuntungan Lakoni Bisnis Sabu

Jefri pun mengakui memiliki usaha utama selama ini. "Iya, punya angkot, kalau empek-empek punya istri saya. Online kadang ambil dari sini," bebernya.

Jefri pun mengatakan selama ini ia tak pernah langsung bertemu dengan pemasoknya.

"Kalau bayarnya cuman transfer, barangnya jemput sama kurir. Sekali kirim untungnya Rp 80 juta, hasilnya buat beli tanah rumah mobil motor, kalau total kurang tahu," sebut Jefri.

Disinggung apakah ia mengikuti pengajian untuk kedok, Jefri membantah hal tersebut. "Enggak saya memang ikut pengajian tapi bukan untuk mengelabuhi," kata Jefri.

Tak hanya itu, Jefri mengaku pernah beberapa kali mengirim ke beberapa Lapas di Lampung.

"Iya ngirim ke lapas juga. Paling satu sampai dua garis," tandasnya.

(Tribunlampung.co.id/Eka Ahmad Sholichin)

Penulis: Eka Ahmad Sholichin
Editor: Teguh Prasetyo
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved