25 Karya dan Budaya Tak Benda Lampung Diusulkan Jadi Warisan Nasional

Sebanyak 25 karya dan budaya bukan benda Lampung diusulkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menjadi warisan nasional.

25 Karya dan Budaya Tak Benda Lampung Diusulkan Jadi Warisan Nasional
Dokumentasi Tribun Lampung
Kain Tapis Lampung 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Sebanyak 25 karya dan budaya bukan benda Lampung diusulkan menjadi warisan nasional. Pengajuan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini bertujuan menjaga karya dan budaya tak benda Lampung agar tidak diklaim milik daerah lain.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Sulpakar menjelaskan usulan 25 karya dan budaya tak benda sebagai warisan nasional telah disampaikan ke Kemendikbud.

"Kita berharap karya dan budaya tak benda yang menjadi kebanggaan masyarakat Lampung bisa dipatenkan sebagai warisan nasional," katanya di sela-sela penganugerahan rekor hak paten Fakultas Pertanian Universitas Lampung oleh Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) di Gedung Serbaguna Unila, Kamis (22/8/2019).

Beberapa di antara 15 karya dan budaya tak benda itu seperti tapis dan seruit. Kemudian seni hadra ugan, ringget, panggeh, dan kakiceran. Untuk adat, ada cuak mengandan, muwaghen, bumbang aji, dan turun mendei.

Sementara untuk tradisi, mulai dari ngunduh damakh, ngejalang kubkho, hingga mukew sahur. Selanjutnya ada tari debingi dan tari ittar muli.

Sulpakar menyatakan pengusulan karya dan budaya tak benda sebagai warisan nasional bertujuan agar nilai budaya Lampung terjaga. Sekaligus, bentuk antisipasi agar tidak diklaim sebagai karya dan budaya daerah lain.

"Di Lampung sangat banyak karya dan budaya. Perlu dijaga supaya tiak dirampas daerah lain. Dipatenkan sehingga mendapat sertifikat resmi dan bisa terus dilestarikan," ujarnya.

Selain itu, imbuh Sulpakar, dengan dipatenkannya karya dan budaya tak benda sebagai warisan nasional, kebudayaan Lampung bisa lebih dikenal.

"Karya dan budaya tak benda yang sedang kita perjuangkan menjadi warisan nasional ini diharapkan bisa diakui secara luas oleh masyarakat dan pemerintah," katanya. 

(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)

Penulis: Eka Ahmad Sholichin
Editor: yoso
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved