Sabtu 24 Agustus 2019, AJI Bandar Lampung Umumkan Penghargaan Saidatul Fitriah

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandar Lampung akan mengumumkan Penghargaan Saidatul Fitriah 2019 pada puncak acara HUT ke-25 AJI.

Sabtu 24 Agustus 2019, AJI Bandar Lampung Umumkan Penghargaan Saidatul Fitriah
Istimewa
Logo Aliansi Jurnalis Independen 

TRIBUNLAMPUNG, BANDAR LAMPUNG – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandar Lampung akan mengumumkan Penghargaan Saidatul Fitriah 2019 pada puncak acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 AJI.

Agenda tahunan ini terjadwal pada Sabtu, 24 Agustus 2019, mulai pukul 15.00 WIB. Bertempat di lantai dua Gedung Pascasarjana Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, Bandar Lampung.

Ketua Pelaksana HUT Ke-25 AJI Faiza Ukhti Anisa menjelaskan AJI Bandar Lampung mengadakan serangkaian kegiatan HUT hingga acara puncak pada akhir pekan ini.

Kegiatan itu antara lain pelatihan cek fakta bagi jurnalis, cerdas cermat jurnalistik khusus pers kampus, serta Penghargaan Saidatul Fitriah dan Kamaroeddin 2019.

"Khusus Penghargaan Saidatul Fitriah 2019, panitia telah menerima 15 karya jurnalistik dari berbagai media massa di Lampung. Topik liputan beragam. Mulai dari lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan. Tahun ini, ada jurnalis televisi yang ikut mengirim karya jurnalistik,” kata Faiza melalui rilis, Rabu (21/8/2019).

Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho menambahkan pemberian Penghargaan Saidatul Fitriah sudah berjalan sejak 2008. AJI Bandar Lampung konsisten memberikan penghargaan bidang jurnalisme itu setiap tahun.

"Satu dari beberapa tujuan di antaranya, merangsang para jurnalis melahirkan karya jurnalistik berkualitas," ujarnya.

Saidatul Fitriah adalah pewarta foto Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung. Ia meninggal dunia pada 3 Oktober 1999. Mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini terluka berat di bagian kepala saat meliput bentrokan aparat dengan ribuan mahasiswa. Publik mengenal peristiwa itu sebagai 'UBL Berdarah' atau 'Tragedi UBL'.

Sedangkan Kamaroeddin adalah pelopor pers di Lampung. Kamaroeddin gelar Soetan Ratoe Agoeng Sampoernadjaja merupakan pendiri Fajar Soematra pada 1930-an dan Lampoeng Review (1933-1937). Rekan Proklamator RI Soekarno di Penjara Sukamiskin, Bandung, 1927, ini masuk penjara akibat tulisannya mengenai keinginan masyarakat Lampung memisahkan diri dari Sumatra Selatan di Surat Kabar Harian Indonesia Raya pada 1957.

(Tribunlampung.co.id/Eka Ahmad Sholichin)

Penulis: Eka Ahmad Sholichin
Editor: yoso
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved