Flight Protecting Indonesia's Birds: Akibat Perburuan, Burung Liar Sumatra Berkurang 3.250 Ekor/Hari

Flight Protecting Indonesia's Birds menyatakan populasi burung liar Sumatra saat ini dalam kondisi krisis.

Flight Protecting Indonesia's Birds: Akibat Perburuan, Burung Liar Sumatra Berkurang 3.250 Ekor/Hari
Istimewa
BURUNG LIAR - Salah satu burung liar Sumatra yang kerap menjadi sasaran perburuan. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Flight Protecting Indonesia's Birds menyatakan populasi burung liar Sumatra saat ini dalam kondisi krisis.

Data Flight Protecting Indonesia's Birds menyebut setidaknya 3.250 ekor burung liar Sumatra berkurang setiap hari akibat perburuan ilegal.

Manajer Kampanye FLIGHT Protecting Indonesia's Birds, Tania Bunga Hernandita, mengungkap catatan 45 kasus upaya penyelundupan antara Januari 2018 hingga 20 Agustus 2019.

Kasus-kasus tersebut, jelas dia, terungkap berkat kerja tim gabungan di Pelabuhan Bakaheuni, Lampung, serta Pelabuhan Merak, Banten. Tim telah menyita total 39.600 ekor burung liar Sumatra.

"Upaya penyelamatan burung Sumatra saat ini masih berfokus pada pencegahan penyelundupan dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa di Pelabuhan Bakaheuni dan Pelabuhan Merak. Sementara pengawasan terhadap para pengumpul burung dan para pedagang masih sangat lemah," jelasnya melalui rilis, Jumat (23/8/2019).

Berdasarkan hasil investigasi, Tania menerangkan perburuan burung liar Sumatra berlangsung di kawasan hutan lindung. Seperti Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

"Flight Protecting Indonesia's Birds juga menemukan adanya para pengumpul burung yang berlokasi di dekat perbatasan Taman Nasional," imbuhnya.

Dari para pengumpul, beber Tania, burung-burung liar Sumatra dikirim kepada para pedagang besar yang berada di banyak kota. Seperti di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Pihaknya pun berharap Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup tegas mengawasi untuk mencegah perburuan burung-burung dari habitat aslinya.

"Upaya mengawasi secara ketat para pedagang dan mencegah pengambilan burung dari habitat aslinya akan meningkatkan peluang para burung untuk bertahan hidup," kata Tania.

Sementara Direktur Eksekutif Flight Protecting Indonesia's Birds, Marison Guciano, menyoroti pasar-pasar burung ilegal yang beroperasi dengan kontrol minimal.

"Selama mereka diberikan izin untuk beroperasi, permintaan burung akan tetap tinggi ,” ujarnya.

Marison menyebut burung-burung liar yang sering diselundupkan di antaranya ciblek (prinia), pleci (zosterops), burung madu (nectariniidae), dan gelatik (parus cinereus). Kemudian cucak hijau (chloropsis sonnerati), poksay genting (garrylax mitratus), dan srindit (loriculus). 

(Tribunlampung.co.id/Hanif Risa Mustafa)

Penulis: hanif mustafa
Editor: yoso
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved