Universitas Lampung

Tak Hanya Pertanian, Pengembangan Lahan Kering Tugas Lintas Disiplin

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Unila mengadakan Seminar Nasional ke-5 th.2019 dengan tema “Pengembangan Lahan Kering Berkelanjutan".

Tak Hanya Pertanian, Pengembangan Lahan Kering Tugas Lintas Disiplin
Ist
Tak Hanya Pertanian, Pengembangan Lahan Kering Tugas Lintas Disiplin 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, UNILA -  Lahan kering adalah kawasan lahan tidak tergenang yang berkaitan dengan daya dukungnya terhadap kehidupan dan kesejahteraan hidup manusia. Sumber daya lahan kering berpotensi besar dalam pembangunan berkelanjutan dan mempunyai layanan ekosistem penting antara lain penyedia pangan, sandang, pakan, kayu dan air.

Tak Hanya Pertanian, Pengembangan Lahan Kering Tugas Lintas Disiplin
Tak Hanya Pertanian, Pengembangan Lahan Kering Tugas Lintas Disiplin (Ist)

Lahan kering menghadapi kendala penataan ruang tidak terkendali, degradasi lahan, perubahan iklim, dan alih fungsi lahan. Wilayah lahan kering umumnya tertinggal dan masyarakatnya belum sejahtera sehingga perlu penelitian dan studi lintas disiplin untuk mengembangkannya.

Tak Hanya Pertanian, Pengembangan Lahan Kering Tugas Lintas Disiplin
Tak Hanya Pertanian, Pengembangan Lahan Kering Tugas Lintas Disiplin (Ist)

Berdasarkan latar belakang tersebut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Lampung (Unila) mengadakan Seminar Nasional ke-5 Tahun 2019 dengan tema “Pengembangan Lahan Kering Berkelanjutan”. Acara yang merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis Unila ke 54 ini dihelat di Ballroom Hotel Emersia, Bandarlampung.

Hadir beberapa pembicara utama yakni Prof. Dr. Ir. Kukuh Murtilaksono, M.S. (Ketua Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI) / Guru Besar Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, IPB.

Tak Hanya Pertanian, Pengembangan Lahan Kering Tugas Lintas Disiplin
Tak Hanya Pertanian, Pengembangan Lahan Kering Tugas Lintas Disiplin (Ist)

Kemudian Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc., Guru Besar Bidang Ilmu Tanah / Manajemen Sumber Daya Alam Unila; Dr. Ir. Suprayoga Hadi, M.S.P (Perencana Ahli Utama Kementerian PPN/Bappenas; Dr. Ir. Zainal Abidin, M.E.S (Ketua PS Magister Manajemen Sumber Daya Alam, Unila), serta Dr. Hartoyo, M.S (Sosiologi FISIP Unila / Sekretaris LPPM Unila).

Lokakarya nasional ini diikuti 140-an peserta dengan 91 makalah. Subtema kegiatan meliputi “Karakteristik dan Produktivitas Lahan Kering”; “Konservasi dan Sumber Daya Alam Lahan Kering”; “Dinamika Sosial dan Ekonomi Pengelolaan Wilayah Lahan Kering”; “Perilaku Budaya Lahan Kering”; dan “Kebijakan Pengelolaan Lahan Kering Berkelanjutan”.

Kegiatan juga dihadiri beberapa perwakilan Perguruan Tinggi seperti Institut Pertanian Bogor; Universitas Gajah Mada; Universitas Tanjung Pura; Universitas Sultan Agung Tirtayasa; Universitas Lampung; IAIN Metro Lampung; Lembaga Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia, Bogor; Badan Pengkajian Teknologi Pertanian, Lampung; serta Balai Penelitian Tanah, Bogor.

Muhajir Utomo saat menyampaikan selayang pandang mengungkapkan, pola ilmiah pokok Unila adalah pengembangan lahan kering. Kekuatan Unila di bidang lahan kering harus diketahui para peneliti lain dan pengambil kebijakan. Tidak ada artinya jika hanya berhenti di universitas tapi tidak diaplikasikan di lapangan. Oleh karena itu dirinya merasa perlu menginisiasi seminar berkelanjutan tentang lahan kering yang vakum sejak 2005.

Selain semnas, pihaknya juga mendiseminasikan hasil-hasil penelitian dalam bentuk proseding dan jurnal wilayah lahan kering yang melibatkan beberapa disiplin ilmu. “Lahan kering bukan hanya milik pertanian tapi lintas disiplin,” ujarnya.

Rektor Unila Prof. Hasriadi Mat Akin mengatakan, kadang pengembangan lahan kering terlupakan padahal potensinya lebih besar daripada lahan basah. Oleh karena itu konversi lahan submarjinal yang padat teknologi ini harus segera dilakukan.

“Sudah waktunya kita membuka diri dengan disiplin ilmu lain agar masalah pertanahan bisa dipecahkan. Apalagi di era industri 4.0 yang memungkinkan proses produksi hingga pemasaran bisa diatur dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi,” paparnya. (*)

Penulis: Advertorial Tribun Lampung
Editor: Advertorial Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved