Micromoon, Fenomena Bulan Purnama Langka yang Terjadi 500 Tahun Sekali
Micromoon yang muncul pada tanggal 13 di hari Jumat atau kerap disebut Friday the 13th belum tentu datang pada 500 tahun ke depan.
Micromoon, Fenomena Bulan Purnama Langka yang Terjadi 500 Tahun Sekali
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Hari Jumat (13/9/2019) malam ini sungguh spesial.
Hanya pada malam ini terjadi fenomena alam langka yang disebut Micromoon.
Micromoon yang muncul pada tanggal 13 di hari Jumat atau kerap disebut Friday the 13th belum tentu datang pada 500 tahun ke depan.
Friday the 13th identik dengan mistis dan fenomena bulan purnama.
Namun, fenomena di langit malam ini lebih dari bulan purnama.
Micromoon, begitu nama fenomena yang terjadi saat ini.
"Micromoon itu nama trivial. Istilah resminya bulan purnama apogean, yaitu bulan dalam fase purnama (oposisi bulan-matahari atau istiqbal) yang berdekatan dengan saat bulan menempati titik apogee (titik terjauh terhadap bumi dalam orbit ellipsnya)," tutur astronom amatir Marufin Sudibyo kepada Kompas.com, Jumat (13/9/2019).
Marufin menyebutkan, meski terlihat mulai malam ini di beberapa wilayah bumi, bulan purnama apogean pada September 2019 sebenarnya baru akan terjadi pada Sabtu, 14 September 2019.
"Pada saat itu bulan mencapai purnama (fase 99,8 persen) dengan jarak bumi-bulan 406.060 km. Posisi apogee Bulan sendiri sudah dicapai 24 jam sebelumnya yaitu sejauh 406.377 km," tuturnya.
• Bulan Purnama Sepanjang Malam, Besok Supermoon akan Hiasi Langit Indonesia
• BMKG Lampung: Bulan Purnama Akan Picu Kenaikan Air Laut pada 23-26 Desember 2018
Semua ini terjadi, lanjut Marufin, karena bulan beredar mengelilingi bumi dengan orbit ellips.
Jarak rata-ratanya ke bumi memang 384.400 km.
Namun orbit ini punya perigee (titik terdekat dengan bumi) 356.000 km dan apogee (titik terjauh dengan bumi) 406.000 km.
"Bulan mencapai perigee dan apogee-nya di bawah pengaruh periode siderisnya yang lamanya 27,33 hari. Sementara fase-fase Bulan dipengaruhi oleh periode sinodisnya yang besarnya rata-rata 29,5 hari. Kelipatan persekutuan dari kedua nilai periode revolusi bulan tersebut adalah 12 atau 13 bulan. Maka setiap 12 atau 13 bulan sekali peristiwa bulan apogean terjadi," jelasnya.
Bisa Dilihat Tanpa Alat Bantu
Fenomena micromoon pada malam ini bisa dilihat dengan mata telanjang alias tanpa alat bantu apa pun.
"Secara kasatmata tidak terbedakan dengan bulan purnama biasa. Hanya jika kita memotretnya dengan kamera tertentu (misalnya DSLR) dengan teknik yang tepat dan dibandingkan dengan potret purnama yang dibidik dengan teknik fotografi yang sama, akan kelihatan micromoon lebih kecil ukurannya," papar Marufin.
Karena sedikit lebih jauh, lanjut ia, maka bulan purnama apogean juga akan sedikit lebih redup.
"Ya 14 persen lebih redup ketimbang Bulan purnama biasa. Tapi perubahan kecerlangan ini juga sulit dibedakan dengan mata tanpa alat bantu. Hanya dengan kamera DSLR atau instrumen fotometer saja perubahan itu bisa diamati," tutur Marufin.
Situs berita WJTV menyebutkan, micromoon yang berlangsung pada Friday the 13th seperti malam ini tak akan terulang kembali dalam 500 tahun mendatang.
Berdasarkan data NASA, hanya 1 persen momen bulan purnama terjadi pada Friday the 13th.
Sementara itu, fenomena micromoon yang terjadi pada Friday the 13th lebih jarang lagi.
Micromoon pada Friday the 13th terakhir kali terjadi pada 1832, dan tak akan terulang sampai 500 tahun lagi. (*)
• Tata Cara Salat Gerhana, Supermoon dan Gerhana Bulan Terjadi pada Senin, 21 Januari 2019
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Fenomena Micromoon Warnai Langit Malam Ini
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/ilustrasi-micromoon.jpg)