Tribun Lampung Selatan

Dilanda Kekeringan, Warga Taman Agung Terpaksa Tambah Biaya Rumah Tangga Beli Air Bersih

Dampak kekeringan akibat kemarau panjang yang terjadi saat ini terus meluas. Kini daerah Taman Agung kecamatan Kalianda mulai kesulitan air bersih.

Dilanda Kekeringan, Warga Taman Agung Terpaksa Tambah Biaya Rumah Tangga Beli Air Bersih
Tribunlampung.co.id/Dedi
Kondisi warga membeli air bersih di desa Taman Agung, Kalianda 

Laporan Wartawan Tribunlampung Dedi Sutomo

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KALIANDA – Dampak kekeringan akibat kemarau panjang yang terjadi saat ini terus meluas. Kini daerah Taman Agung kecamatan Kalianda pun, warganya mulai kesulitan air bersih.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga di desa tersebut kini mulai terpaksa membeli air dari tangki penyuplai asal Sidomulyo.

“Sudah sejak dua pekan ini air sumur sudah tidak bisa lagi digunakan. Terpaksa kita membeli air,” kata Yuni, seorang ibu rumah tangga di desa Taman Agung, minggu (15/9).

Menurut dirinya, kemarau panjang yang terjadi tahun ini membuat debit air sumur warga kering. Pada kemarau tahun lalu warga tidak sampai kekeringan seperti saat ini.

Dengan kondisi saat ini, kata dia, warga pun terpaksa menambah biaya rumah tangga untuk membeli air bersih setiap harinya sekitar Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu. Selain membeli warga hanya mengharapkan adanya bantuan air.

Berita Tribun Lampung Terpopuler Senin 16 September 2019 - 4 PSK di Pringsewu Diamankan

Prakiraan Cuaca BMKG Lampung, Senin 16 September 2019

“Kalau kita tidak beli, kebutuhan dapur dan rumah tangga lainnya tidak mencukupi. Terpaksa kita membeli air,” ujar ibu dua anak tersebut.

Kondisi kekeringan ini juga dialami warga di sejumlah daerah di kecamatan Sidomulyo dan Way Panji serta Bakauheni. Bahkan untuk warga di dusun Kayu Tabu Bakauheni, kekeringan sudah 2 bulan terakhir mereka alami.

“Kalau kita sudah tidak kaget dengan kekeringan. Sudah 2 bulan ini kita mengalami kondisi kekeringan dan kurang air bersih,” kata Ardi.

Untuk mencukupi kebutuhan air, warga di dusun tersebut terpaksa antri panjang sejak pagi hingga siang di satu-satunya sumber air yang tersisa. Sebagian warga memilih membeli air bersih dari pemasok yang datang ke dusun tersebut.

(Tribunlampung.co.id/dedi sutomo)

Penulis: Dedi Sutomo
Editor: Reny Fitriani
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved