Tribun Way Kanan

Alami Kekeringan Sampai Beli Air Rp 500 Ribu, Warga Way Kanan Harap Bantuan Pemerintah

Musim kemarau panjang di pertengahan tahun membuat banyak persoalan dialami sejumlah warga Way Kanan.

Alami Kekeringan Sampai Beli Air Rp 500 Ribu, Warga Way Kanan Harap Bantuan Pemerintah
Tribun Lampung/Dedi Sutomo
Ilustrasi - Alami Kekeringan Sampai Beli Air Rp 500 Ribu, Warga Way Kanan Harap Bantuan Pemerintah. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BLAMBANGAN UMPU - Musim kemarau panjang di pertengahan tahun membuat banyak persoalan dialami sejumlah warga Way Kanan.

Terkhusus pada masalah rumah tangga masyarakat yang bermukim di aera sekitar sungai Way Umpu, Way Kanan, karena sumur mengalami kekeringan air dan air sungai yang tidak bersih belakangan ini.

Indro salah seorang warga Kelurahan Blambangan Umpu mengungkapkan, dua bulan terakhir puncak kemarau mengeringkan sumurnya.

Indro mengatakan, ia dan keluarga kesulitan air karena sumur kering.

Untuk memenuhi kebutuhan air keluarganya, Indro pun terpaksa harus merogoh kocek Rp 50 ribu per tiga hari untuk membeli satu tong air bersih dari jasa air bersih sekitar Blambangan Umpu.

Dengan demikian, Indro harus merogoh kocek sekitar Rp 500 ribu per bulannya.

Alami Kekeringan, Warga Kedaung, Sukamaju, Beli Air Sampai Rp 70 Ribu, Harap Bantuan Pemerintah

Pengawas Proyek di OKU Selatan, Tikam Warga Way Kanan Hingga Tewas Bersimbah Darah, Alasannya Sepele

“Dua bulan ini saya beli air terus, sulit sekali. Saya dan keluarga sangat membutuhkan pasokan air sangat banyak untuk keperluan aktivitas sehari-hari," keluh Indro, Senin 23 September 2019.

Indro pun mengharapkan pemerintah daerah bisa lebih peka dengan memberikan bantuan air bersih.

Kekeringan tak hanya melanda sumur-sumur warga, tetapi juga berdampak pada lahan pertanian.

Dilanda Kekeringan, Warga Taman Agung Terpaksa Tambah Biaya Rumah Tangga Beli Air Bersih

Dilanda Kekeringan, Warga di Desa Ini Harus Antre Berjam-jam demi Air Bersih

Junirin warga Bahuga mengeluhkan lahan sawahnya yang mengalami kekeringan dan tidak bisa melanjutkan musim panen padi.

“Air di sungai kering, lalu aliran irigasi juga ikut kering. Kami harap pemerintah juga bisa mengambil kesimpulan untuk memberikan solusi ini jangan sampai dibiarkan saja,” harap Junirin.

Junirin mengatakan, hingga saat ini pemerintah daerah belum turun ke lapangan untuk menangani permasalahan kekeringan tersebut. (tribunlampung.co.id/anung bayuardi)

Penulis: anung bayuardi
Editor: Noval Andriansyah
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved