Kerusuhan di Wamena

5.000 Orang Mengungsi Akibat Kerusuhan di Wamena Papua, 'Kami Trauma dan Takut'

Aksi unjuk rasa yang berujung kerusuhan di Wamena menimbulkan korban jiwa, Senin (23/9/2019).

5.000 Orang Mengungsi Akibat Kerusuhan di Wamena Papua, 'Kami Trauma dan Takut'
KOMPAS.com/ JOHN ROY PURBA
Kondisi warga yang mengungsi di markas Polisi Militer pasca-kerusuhan Wamena pada pagi ini, Selasa (24/9/2019). 5.000 Orang Mengungsi Akibat Kerusuhan di Wamena Papua, 'Kami Trauma dan Takut'. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Aksi unjuk rasa yang berujung kerusuhan di Wamena menimbulkan korban jiwa, Senin (23/9/2019).

Perkembangan terbaru menyebutkan, sebanyak 21 orang tewas.

Sementara, 65 orang terluka atas insiden ini.

Menurut pihak kepolisian, aksi massa yang berujung kerusuhan di Wamena itu dipicu hoaks isu rasisme.

Kabar tersebut meluas dan terjadi aksi unjuk rasa pelajar di Kota Wamena.

Siswa SMA dan masyarakat berjumlah 200 orang menuju satu sekolah di Kota Wamena, Jayapura.

Anggota TNI Gugur di Papua, Praka Zulkifli Dikeroyok Massa Saat Istirahat

Kakak Beradik Bunuh Polisi yang Hendak Nikah di Lampung, Rebut Pistol Saat Korban Jatuh

Jumlah demonstran pun terpecah menjadi tiga titik.

Ketiganya berada di kantor bupati, perempatan Homhom, dan sepanjang Jalan Sudirman.

Massa membakar rumah warga, kantor pemerintahan, kantor PLN, dan sejumlah kios masyarakat.

Aparat telah berupaya membuat para demonstran mundur.

Halaman
1234
Editor: Ridwan Hardiansyah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved