Jelang Satu Dekade, doctorSHARE Konsisten Hadirkan Akses Kesehatan di Pelosok Indonesia

Terbatasnya fasilitas kesehatan dan kurangnya jumlah tenaga medis membuat akses kesehatan masyarakat di wilayah 3T terhambat.

Jelang Satu Dekade, doctorSHARE Konsisten Hadirkan Akses Kesehatan di Pelosok Indonesia
Dokumentasi doctorSHARE
Kegiatan pengobatan di RSA Nusa Waluya II 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG - Terbatasnya fasilitas kesehatan dan kurangnya jumlah tenaga medis membuat akses kesehatan masyarakat di wilayah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (3T) terhambat. 

Terkadang fasilitas kesehatan cukup memadai, namun tenaga medisnya tidak tersedia.

Tidak jarang  kondisi sebaliknya pun kerap terjadi.

Berdasarkan data National Research of Health Facilities 2017 di Papua dan Maluku dengan jumlah penduduk 7.3m juta, satu orang dokter harus menangani 4.000 pasien.

Sedangkan satu orang dokter di Jakarta yang berpenduduk mencapai 10.5 juta menangani 350 pasien. 

Ditambah lagi, buruknya akses transportasi menjadi kendala berlapis saat masyarakat hendak menjangkau bantuan kesehatan.

Pendiri Yayasan Dokter Peduli dr Lie Dharmawan mengungkapkan, kesehatan menjadi modal utama sebagian besar masyarakat di daerah terpencil untuk melanjutkan hidup. 

Bertani, berkebun, beternak, dan mencari ikan menjadi jenis pekerjaan masyarakat di daerah terpencil yang menuntut kondisi kesehatan prima.

“Masalah kesehatan menjadi kendala besar karena jika tidak bisa bekerja maka tidak ada penghasilan pada hari itu. Seluruh anggota keluarga jadi taruhannya,” ucap Lie Dharmawan melalui rilis yang diterima  Tribunlampung.co.id, Sabtu (2/11/2019).

Yayasan Dokter Peduli atau doctorSHARE akhirnya memutuskan untuk fokus memberikan pelayanan di bidang kesehatan secara gratis bagi masyarakat di wilayah terpencil Indonesia. 

Halaman
12
Penulis: sulis setia markhamah
Editor: Reny Fitriani
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved