Breaking News:

Pengerukan Pasir GAK

BREAKING NEWS - Warga Pulau Sebesi Gelar Aksi Tolak Aktivitas Pengerukan Pasir GAK

Warga berkumpul di Dermaga Pulau Sebesi Sembari menyarakan penolakan terhadap aktivitas pengerukan pasir laut di sekitaran kawasan GAK.

Dokumentasi Warga Pulau Sebesi
Ilustrasi - Satu unit kapal berada di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Sabtu, 23 November 2019, malam. Masyarakat menduga kapal tersebut melakukan aktifitas pengerukan pasir di sekitar GAK. 

Laporan Wartawan Tribunlampung Dedi sutomo

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KALIANDA – Warga desa Tejang pulau Sebesi sempat kembali menggelar aksi dan orasi menolak adanya aktivitas pengerukan pasir di sekitaran gunung anak Krakatau (GAK).

Warga berkumpul di Dermaga Pulau Sebesi Sembari menyarakan penolakan terhadap aktivitas pengerukan pasir laut di sekitaran kawasan GAK yang dilakukan oleh PT Lautan Indah Persada (LIP).

“Tadi pagi memang warga sempat berkumpul di sekitaran dermaga sambil menyuarakan penolakan terhadap aktivitas penyedotan pasir GAK oleh PT LIP,” kata Robi salah seorang warga pulau Sebesi, selasa (26/11).

Dirinya mengatakan, KM Mehad I dan kapal tongkang yang diduga melakukan aktivitas penyedotan pasir laut di sekitara GAK kini telah pergi dari perairan sekitaran GAK pada senin (25/11) sore kemarin.

“Kapal KM Mehad I sudah pergi kemarin sore. Saat warga mendatangi kapal pada minggu akhir pekan kemarin, diduga kapal telah melakukan aktivitas pengerukan. Karena sudah ada pasir laut diatas kapal tongkang,” terangnya.

Persoalan aktivitas pengerukan pasir laut di sekitaran kawasan GAK kembali mencuat hangat.

Warga masyarakat pulau Sebesi bersama dengan elemen masyarakat lainnya mendapati KM Mehad I milik PT LIP melakukan aktivitas penambangan sedot pasir disekitaran kawasan GAK. Kapal ditemukan warga sekitar 2,3 mil di lepas pantai pulau Sebesi pada minggu (24/11) kemarin.

Warga pulau Sebesi dan juga pesisir kecamatan Rajabasa di kabupaten Lampung Selatan menolak adanya aktivitas penambangan sedot pasir di sekitaran kawasan GAK oleh PT. LIP.

Warga khawatir aktivitas pengerukan pasir ini tidak hanya merusak ekosistem laut di daerah pengerukan.

Halaman
1234
Penulis: Dedi Sutomo
Editor: Reny Fitriani
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved