Serupanya Skema PAW Harun Masiku dan Mulan Jameela, Oligarki Parpol yang Harus Dihentikan

Skema PAW Harun Masiku Mirip Kasus Mulan Jameela dimana partai memaksakan diri meloloskan orang tertentu

Serupanya Skema PAW Harun Masiku dan Mulan Jameela, Oligarki Parpol yang Harus Dihentikan
kpu.go.id
Jadi Buron KPK, Harun Masiku Diminta Menyerahkan Diri 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Skema pergantian antarwaktu ( PAW) yang hendak dilakukan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) Harun Masiku dinilai nyaris sama dengan PAW politikus Partai Gerindra Mulan Jameela.

Kedua dewan pimpinan partai (DPP) berupaya memaksakan diri untuk meloloskan kader tertentu yang tidak memperoleh suara yang cukup untuk duduk di kursi Senayan.

Akibatnya, sejumlah aturan yang telah dibuat bersama berusaha untuk dipatahkan melalui mekanisme peradilan.

Hal itu diungkapkan mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Hadar Nafis Gumay saat dihubungi Kompas.com, akhir pekan lalu.

Ia menilai, partai politik dapat menjadi aktor perusak demokrasi yang selama ini telah terbangun cukup baik.

Harun Masiku Pergi ke Singapura 2 Hari Sebelum OTT, KPK Kecolongan?

Puan Enggan Komentari Soal Harun Masiku Jadi Tersangka Dugaan Suap,Tanya ke Megawati atau Hasto

Raja Keraton Agung Sejagat dan Istri Ditangkap Polisi, Ini Alasannya

Sosok Konglomerat Benny Tjokro, Tersangka Korupsi Jiwasraya Dimarahi Ayah Karena Bermain Saham

"Kurang lebih (sama). Itu sebetulnya upaya yang keliru dan bahkan merusak sistem pemilu. Apa yang terjadi, gangguan-gangguan yang terjadi di republik ini harus dihentikan," kata Hadar, Jumat (10/1/2020).

Persoalan PAW Harun mencuat setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap adanya dugaan suap yang dilakukan komisioner KPU Wahyu Setiawan.

Ia diduga meminta uang sebesar Rp 900 juta kepada Harun sebagai biaya operasional untuk memudahkan proses PAW tersebut.

Hadar tak menampik bahwa persoalan ini akan menggerogoti kepercayaan publik terhadap lembaga pemilih.

Namun, ia berharap agar publik tak hanya menyalahkan KPU semata.

Halaman
1234
Editor: wakos reza gautama
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved