Italia Sempat Catatkan Rekor 793 Korban Jiwa akibat Corona, Kini Turun Jadi 651 Korban

Sehari sebelumnya, Italia mencatatkan rekor 793 korban jiwa dalam sehari akibat virus corona, Sabtu (22/3/2020).

rfi.fr
Ilustrasi - Kasus Corona di Italia. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, ROMA - Kasus kematian akibat virus corona atau Covid-19 di Italia mulai menunjukkan penurunan.

Meski begitu, angka kematian di Negeri Pizza itu masih tergolong tinggi.

Dikutip Kompas.com dari AFP, jumlah korban meninggal dunia akibat Covid-19, Minggu (23/3/2020), "hanya" 651 orang.

Sehari sebelumnya, Italia mencatatkan rekor 793 korban jiwa dalam sehari akibat virus corona, Sabtu (22/3/2020).

Ada Wabah Corona, Bandara Radin Inten II Tetap Beroperasi

Warga Lampung Buru Klorokuin, Petugas Puskesmas Simpur Dikucilkan

Gara-gara Corona, Italia Jadi Negara Mati Hanya Dalam Waktu Sebulan

Eks Pemain Man United Marouane Fellaini Positif Covid-19

Jika ditotal, angka kematian akibat virus corona di Italia sudah menembus 5.476 orang.

"Angka-angka yang diumumkan hari ini lebih rendah daripada kemarin," kata Kepala Layanan Perlindungan Sipil Italia, Angelo Borrelli, dikutip dari AFP.

"Saya berharap dan kita semua berharap (penurunan) angka-angka ini dapat terjadi lagi di hari-hari berikutnya, tapi jangan lengah," imbuhnya.

Negeri "Pizza" telah melakukan banyak pengorbanan, mulai dari aspek ekonomi dan kebebasan sosial, untuk menghentikan penyebaran virus corona.

Perdana Menteri Giuseppe Conte mengambil langkah ekstra pada Sabtu, untuk menutup pabrik yang "tidak penting" sampai 3 April.

Conte juga mengindikasikan lockdown nasional akan diperpanjang dalam waktu mingguan atau bahkan bulan, tapi belum diketahui pastinya.

Denda juga dijatuhkan bagi para penduduk yang keluar rumah tanpa alasan jelas.

Khusus untuk area di sekitar Milan, denda ditingkatkan dari 206 euro (sekitar Rp 3,5 juta) ke 5.000 euro (sekitar Rp 85 juta).

Jumlah korban tewas pada Sabtu menunjukkan semua upaya itu gagal, namun angka-angka di Minggu memberi mereka harapan.

"Kita tidak boleh terlalu jemawa atau terlalu menafsirkan hal-hal," kata Pakar Komite Ilmiah Pemerintah, Franco Locatelli.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved