Breaking News:

Permintaan Cabai Jamu Lampung Meningkat 800 Persen

Karantina Pertanian Lampung mencatat ekspor untuk komoditas sub sektor hortikultura ini pada semester 1/2020 meningkat 800 persen.

Dokumentasi
Cabai jamu. Permintaan Cabai Jamu Lampung Meningkat 800 Persen 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Permintan cabai jamu (long paper) asal Provinsi Lampung makin meningkat di pasar dunia.

Karantina Pertanian Lampung mencatat ekspor untuk komoditas sub sektor hortikultura ini pada semester 1/2020 meningkat 800 persen dibandingkan semester 1/2019.

Berdasarkan data pada system IQFAST, sejak Januari - Juli ekspor cabai jamu telah mencapai 405,4 ton dengan nilai Rp19,9 miliar.

Sedangkan pada periode yang sama di tahun 2019 hanya 48 ton senilai Rp. 322,4 juta.

Harga Emas Hari Ini Sabtu 29 Agustus 2020, Simak Harga Beli Logam Mulia dan Harga Jual Logam Mulia

Perusahaan Gas Negara Komitmen Bangun Infrastruktur Baru untuk Mendorong Bauran Energi Nasional

Sempat Menguat, Rupiah Kembali Melemah Kamis, 27 Agustus 2020, Rp 14.708 per Dollar AS

Harga Emas Hari Ini Jumat 28 Agustus 2020, Simak Harga Beli Logam Mulia dan Harga Jual Logam Mulia

Kepala Karantina Pertanian Lampung Muh Jumadh melalui rilis yang diterima Tribunlampung.co.id, Jumat (28/8/2020), menyatakan, selain mengalami peningkatan volume juga ada penambahan negara tujuan.

Di antaranya tahun 2019 hanya 7 negara tujuan sedangkan tahun 2020 menjadi 11 negara tujuan.

"Alhamdulillah cukup menggembirakan pengingkatan ekspor cabe jamu ini, dapat menembus Negara China dan benua Afrika," katanya.

Sebelumnya dari Lampung belum ada ekspor ke China dan tahun ini sebanyak 153 ton dapat dikirim ke China.

Untuk Afrika, Djibouti menjadi Negara pengimpor pertama dikirm sebanyak 14 ton. Ekspor ke India pun meningkat dari 27 ton menjadi 131 ton.

"Beberapa Negara yang merupakan pelanggan cabai jamu ini adalah India, Pakistan, Malaysia, Turkey, United Kingdom, Vietnam, Singapura. Tahun ini bertambah Bangladesh, United Arab Emirates, China, Djibouti, Japan, Germany dan Nepal." katanya.

Secara nasional pada tahun 2020, komoditas ini telah menyumbang devisa negara sebesar Rp 165,6 miliar, meningkat pesat dibandingkan tahun 2019 hanya sebesar Rp. 24,6 miliar," ujar Jamil.(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Reny Fitriani
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved