Tribun Lampung Selatan
Kopi Krakatoa Gunung Rajabasa Tetap Bertahan di Tengah Pandemi, Penjualan Turun Drastis Akibat PSBB
Penjualan bubuk kopi dengan merk “Krakatoa” miliknya mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Penulis: Dedi Sutomo | Editor: Reny Fitriani
Laporan Reporter Tribunlampung.co.id Dedi Sutomo
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG SELATAN – Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak bulan Maret lalu, memukul usaha pembuatan bubuk kopi rabusta dari gunung Rajabasa yang dikembangkan oleh Tri Budianto, warga Penengahan Lampung Selatan.
Penjualan bubuk kopi dengan merk “Krakatoa” miliknya mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Beberapa inovasi pun coba dilakukannya.
Namun sejauh ini, belum bisa kembali mendorong meningkatnya penjualan.
Kepada Tribunlampung.co.id, Kamis (15/10/2020) Tri mengatakan, pada awal pandemi Covid-19 saat ada kebijakan PSBB (pembatasan sosial berskala besar), penjualan bubuk kopi miliknya ke luar daerah turun drastis hingga 80 persen.
Baca juga: Lokasi Persona Kopi Bandar Lampung, Coworking Space Bagi Pejuang Skripsi
Baca juga: Siswa SD Xaverius 1 Bandar Lampung Sabet Medali Emas di Ajang AIMO 2020, Lomba Digelar Secara Daring
Peningkatan sempat terasa, saat pemerintah mulai menerapkan kebijakan pelonggaran (new normal).
Tetapi kebijakan pemprov DKI yang kembali memperketat PSBB wilayah ibu kota, kembali berdampak.
“Pembeli kita banyak juga dari Jakarta. Selain untuk konsumsi pribadi, banyak juga yang untuk café dan warung. Karena PSBB di DKI Jakarta menurun,” kata dia.
Tidak hanya untuk pasar DKI Jakarta.
Pasar daerah lainnya pun juga menurun.
Seperti ke Bandung, Bekasi, Jogjakarta dan daerah lainnya.
Biasanya, ujar Tri Budianto, setiap bulannya setidaknya 5-7 kwintal bubuk kopi hasi terjual.
Saat ini paling banyak hanya sekira 50 kilogram hingga 1 kwintal.
Beberapa waktu lalu, dirinya pernah mencoba menjajaki kerjasama untuk bisa mengekspore bubuk kopi miliknya.
Tetapi ini pun, belum bisa dijalankannya karena kondisi pandemi covid-19.
“Sekarang kita terpenting kita bisa bertahan dahulu. Karena memang kondisi pandemi covid-19, belum banyak yang bisa kita lakukan,” ujar dirinya.
Usaha bubuk kopi “Krakatoa” milik Tri Budianto pun memiliki beberapa varian produk.
Seperti rouster (kopi biji yang sudah disangrai) harganya Rp. 20 ribu per kemasan.
Lalu bubuk kopi original dengan harga yang sama Rp 20 ribu per kemasan.
Ia juga memproduk bubuk kopi campuran rumput laut dengan harga Rp 30 ribu per kemasan. Kemudian bubuk kopi pasak bumi dengan harga Rp 20 ribu per kemasan.
“Varian terbaru kita, bubuk kopi jahe merah dengan harga Rp 28 ribu per kemasan. Tapi ini belum bisa kita pasarkan secara luas, karena kondisi pandemi covid-19 saat ini,” kata Tri Budianto.(Tribunlampung.co.id/Dedi Sutomo)