Tribun Bandar Lampung

Batik Siger Lampung, Sempat Krisis 4 Bulan di Awal Pandemi, Maksimalkan Penjualan Online

Di masa pandemi ini, salah satu yang dimaksimalkan adalah pemasaran online melalui ragam sosial media.

Dokumentasi
Laila Al Husna. Batik Siger Lampung, Sempat Krisis 4 Bulan di Awal Pandemi, Maksimalkan Penjualan Online 

Laporan Reporter Tribunlampung.co.id Sulis Setia Markhamah

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Laila Al Husna atau akrab disapa Mama Una termasuk salah satu pelaku UMKM di Bandar Lampung yang merasakan dampak pandemi Covid-19.

Bahkan empat bulan awal masa pandemi, sejak Maret hingga Juli 2020, diakui perempuan kelahiranSolo, 17 April 1958, tidak ada kunjungan sama sekali di Rumah Batik Siger Lampung, Jalan Bayam Nomor 38, Komplek Beringin Raya, Kemiling.

"Tapi saya tidak merumahkan 30 karyawan yang bekerja, terlebih mereka tulang punggung keluarganya," beber Mama Una, Selasa (20/10/2020).

Dari 30 karyawan ini yang bekerja di LKP Batik Siger ada 16 orang, sementara sisanya bekerja dari rumah masing-masing dan mereka tetap produksi.

Kini pesanan diakuinya sudah mulai lancar.

Setidaknya dalam satu bulan, 60 potong kain khas batik Lampung terjual baik secara offline maupun online.

"Agustus mulai ada kunjungan, mulai ada pesanan meskipun masih sekitar 70 persen dibandingkan sebelum pandemi," kata dia.

Harga sendiri dimulai dari Rp 225 ribu sampai Rp 2 juta lebih untuk batik tulis.

Rp 225 sampai Rp 400 ribu untuk batik cap semi tulis, dan Rp 125 ribu sampai Rp 150 ribu untuk printing.

Tak hanya itu, saat ini juga mulai masuk pesanan dari lembaga atau instansi pemerintahan yang nilai pesanannya cukup lumayan, puluhan hingga ratusan potong untuk seragam batik.

"Di luar Bandar Lampung, pesanan dilakukan online, 2 atau 3 potong. Seperti dari Yogyakarta, Batam, hingga Jawa Timur," jelas dia.

Di masa pandemi ini, salah satu yang dimaksimalkan adalah pemasaran online melalui ragam sosial media.

Selain itu juga aktif mengikuti webinar untuk upgrade pengetahuan dan ilmu.

Menurut Mama Una, belanja di Batik Siger tidak hanya sekedar dapatkan batik, namun juga bisa diedukasi terkait ragam jenis batik.

"Di Batik Siger kita jelaskan apa bedanya batik tulis, cap, hingga printing," katanya.

Selain itu, pengunjung juga diedukasi terkait bahan tulisnya yang menggunakan pewarna alami atau kimia.

"Karena proses pembuatan dan pewarna yang dipakai mempengaruhi harga. Kita punya batik dari yang biasa sampai premium. Jadi melayani semua kalangan," imbuh dia.

Terakhir, Mama Una berharap pandemi segera berlalu dan perekonomian kembali pulih.

Sehingga pelaku usaha seperti dirinya bisa terus produktif dan memperluas lapangan kerja. (Tribunlampung.co.id/Sulis Setia Markhamah)

Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved