Badak Lampung FC
Badak Lampung Sudah Keluarkan 90 Persen Anggaran, Hasil Nol! Subsidi PT LIB Bagaimana?
Badak Lampung FC, termasuk satu tim merugi akibat ketidakjelasan kompetisi di tengah pandemi Covid-19, yang digelar PT LIB.
Penulis: Noval Andriansyah | Editor: Noval Andriansyah
Laporan Reporter Tribunlampung.co.id Noval Andriansyah
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Keputusan PT Liga Indonesia Baru (LIB), selaku operator Liga 1 dan Liga 2 2020, memundurkan kembali jadwal lanjutan kompetisi, membuat hampir semua tim merugi.
Badak Lampung FC, termasuk satu tim merugi akibat ketidakjelasan kompetisi di tengah pandemi Covid-19.
Manajer Badak Lampung FC Dany Aulia bahkan menyebut, kerugian yang dialami tim yang bermarkas di Stadion Sumpah Pemuda, Way Halim, Bandar Lampung itu, sampai 90 persen dari total budget yang dianggarkan untuk satu musim.
"Kalau ada hasil minimal 50 persen, misalnya (kompetisi berjalan) kita (Badak Lampung) sudah masuk ke 8 besar atau semifinal, masih masuk akal," kata Dany Aulia dalam perbincangan dengan Tribunlampung.co.id di pesan WhatsApp, Senin (2/11/2020) malam.
"Tapi kan ini kami sudah keluar 90 persen anggaran, tidak dapat hasil apa-apa," sebut Dany Aulia.
Baca juga: Penggawa Badak Lampung Manda Cingi Habiskan Waktu Libur Menonton Film
Baca juga: Liga 2 2020 Kembali Ditunda hingga Februari 2020, Badak Lampung Tunggu Kepastian
Sayangnya, Dany enggan menyebut nominal pasti anggaran yang telah dihabiskan itu.
"Ngga enak lah, nanti terbongkar lagi 'dapur' kami," seloroh Dany.
Di sisi lain, kata Dany, pemasukkan klub sangat minim.
Karena kompetisi tidak bergulir, otomatis pemasukkan dari tiket jelas tidak ada.
Penjualan merchandise pun tidak bisa membantu menopang pengeluaran klub.

Alhasil, lanjut Dany, manajemen memutuskan untuk meliburkan tim sementara waktu sampai ada kejelasan mengenai kompetisi.
"Kan menyangkut juga soal kontrak pemain," ucap Dany Aulia.
Satu-satunya pemasukkan yang terealisasi adalah subsidi dari PT LIB.
Dany menyebutkan, di awal kompetisi atau pada Maret 2020, PT LIB menjanjikan subsidi anggaran sebesar Rp 1,150 miliar selama satu musim.
"Kami baru terima Rp 250 juta," jelas Dany Aulia.
Kemudian, karena kompetisi akhirnya ditunda lantaran pandemi Covid-19 dan rencana bergulir pada Oktober 2020, sehingga subsidi anggaran pun berubah menjadi Rp 600 juta.
"Lalu, yang kedua itu kami terima September 2020 sebesar Rp 150 juta."
"Itu potong pajak semua ya, jadi tidak murni dicairkan sebesar itu (Rp 250 juta dan Rp 150 juta)," jelas Dany Aulia.
Pada saat manager meeting bersama di Yogyakarta, beberapa waktu lalu, lanjut Dany, PT LIB juga menjanjikan 'uang tunggu' sebesar Rp 25 juta.
Namun, hingga saat ini, Dany mengaku belum menerima realisasi dari janji tersebut.
Pelatih Pulang
Di sisi lain, tak hanya pemain, staf dan official, yang libur, pelatih kepala Badak Lampung FC, Rafael Berges Marin, juga ikut libur dan akhirnya pulang ke negaranya, Spanyol.
"Pelatih pulang sejak Selasa (27/10/2020)," ucap Dany Aulia.
"Setelah kami rapat Sabtu (24/10/2020) malam, manajemen ambil sikap, meliburkan seluruh kegiatan sampai ada kejelasan kompetisi," jelas Dany Aulia.
Dany berharap, kompetisi Liga 2 2020 benar-benar dilanjutkan pada Februari 2020, meski waktunya akan sangat sedikit.
"Kalau hasil manager meeting di Yogyakarta kemarin itu, klub Liga 2 masih fifty-fifty, artinya ada yang menginginkan kompetisi Liga 2 2020 dilanjutkan tapi ada yang usul untuk kompetisi baru saja," terang Dany Aulia.
Hal tersebut terkait juga dengan kontrak pemain.
Mengenai kontrak pemain, Dany menyebut, masih menunggu kepastian lebih lanjut dari PT LIB.
"Kalau seandainya Liga 2 2020 dinyatakan tidak ada atau dibekukan, maka otomatis kan kontrak pemain gugur."
"Itu sudah ada dalam klausul kontrak setiap pemain profesional," tutur Dany Aulia.
Tetapi, Dany memastikan, jika manajemen Badak Lampung telah mencairkan dua kali down payment atau uang muka ke para pemain dan official.
"Mungkin hanya kami (Badak Lampung) di Liga 2, yang mencairkan dua kali down payment ke pemain," ucap Dany Aulia.
Janjikan Subsidi Klub
Sebelumnya, Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Akhmad Hadian Lukita mengatakan, pihaknya telah membuat formula untuk memberikan tambahan subsidi buat klub Liga 1 dan Liga 2 2020.
PSSI dan PT LIB kembali menunda Liga 1 dan Liga 2 2020 hingga Februari 2021, sehingga saat ini klub dalam masa tunggu, yang mana tanpa ada kegiatan.
Tetapi, walaupun tak memiliki kegiatan, klub masih diwajibkan untuk membayar gaji para pemain hingga kompetisi kembali bergulir.
Bahkan kesepakatan itu telah disetujui oleh semua klub saat manager meeting bersama di Yogyakarta beberapa waktu lalu.
PT LIB mengatakan, tetap mengusahakan akan memberikan subsidi kepada klub walaupun kompetisi kembali mengalami penundaan.
"Untuk masalah subsidi memang masih kami rumuskan," kata Akhmad Hadian Lukita kepada BolaSport.com, yang dikutip Tribunnews.com.
"Kalau masalah subsidi tambahan saat ini sedang kami pikirkan soal itu."
"Karena kami juga saat ini mencari cara yang tepat untuk masalah tersebut," ucap Akhmad Hadian Lukita.
Akhmad Hadian menyebut, sampai saat ini pihaknya tetap mendengarkan apa yang menjadi keluhan klub-klub.
(Tribunlampung.co.id/Noval Andriansyah)