Breaking News:

Metro Tribun Lampung

TPA Karangrejo Rencana Kembangkan Belatung untuk Urai Sampah Organik Jadi Pakan Ternak

"Kita akan coba bisa bertelur nggak. Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa mulai. Kalau tempatnya sudah ada, tinggal uji coba.

ISTIMEWA
Ilustrasi TPA 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Karangrejo berencana memberdayakan maggot (serangga penggurai sampah) untuk mengurai sampah organik di wilayah setempat agar bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak.  

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Sampah dan Kebersihan TPAS Karangrejo Supriyanto mengatakan, sudah ada tempat yang disiapkan untuk uji coba penggunaan maggot sebagai pengurai sampah organik.

"Kita akan coba bisa bertelur nggak. Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa mulai. Kalau tempatnya sudah ada, tinggal uji coba. Ini salah satu upaya kita memanfaatkan sampah organik yang masuk TPA Karangrejo," bebernya, Selasa (24/11).

Memang, terus Supriyanto, kendala saat ini belum adanya pemilahan sampah yang masuk ke TPA Karangrejo. Pihaknya sedikit terbantu dengan adanya pemulung yang melakukan pemilahan sampah organik dan unorganik. 

"Nah, ke depan kita harapkan program reduce, reuse, dan recycle itu bisa berjalan. Sehingga pemanfaatan sampah sebagai sumber ekonomi dengan tata kelola yang baik maupun modern itu bisa direalisasikan. Jadi bisa daur ulang, jadi pupuk, maupun pakan ternak," imbuhnya.

Seorang pemulung sedang mencari barang di tumpukan sampah di TPA Karangrejo, Kota Metro, Minggu (22/11/2020). Saat ini pengelolaan sampah di Metro masih menerapkan pola open dumping alias tak ada perlakuan khusus atas sampah yang dibuang. (Tribunlampung.co.id/Indra Simanjuntak)
Seorang pemulung sedang mencari barang di tumpukan sampah di TPA Karangrejo, Kota Metro, Minggu (22/11/2020). Saat ini pengelolaan sampah di Metro masih menerapkan pola open dumping alias tak ada perlakuan khusus atas sampah yang dibuang. (Tribunlampung.co.id/Indra Simanjuntak) (Tribunlampung.co.id/Indra Simanjuntak)

Baca juga: Tak Ada Perlakuan Khusus atas Sampah yang Dibuang, Jadi Alasan Kota Metro Tak Lagi Terima Adipura

Baca juga: Masuk Kerumunan Demonstran Tolak UU Omnibus Law, Wali Kota Risma Punguti Sampah Malah Dicemooh

Baca juga: Tahun 2021, DLH Tulangbawang Barat Olah Sampah dan Kotoran Sapi Jadi Pupuk Organik Cair

Diketahui, maggot atau belatung merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly (Hermetia Illucens, Stratimydae, Diptera) dikenal sebagai lalat tentara. Meskipun dari keluarga lalat, BSF tidak menularkan bakteri, penyakit, bahkan kuman kepada manusia.

Seperti halnya belatung, maggot berguna secara ekologis dalam proses dekomposisi bahan-bahan organik. Maggot mengonsumsi sayuran dan buah. Tak hanya buah dan sayuran segar, maggot pun mengonsumsi sampah sayuran dan buah. 

Selain sangat cepat berkembangbiak, maggot mempunyai nilai ekonomis sebagai sumber pakan ternak dan menjadi pupuk. Karena mengandung protein tinggi dan kandungan gizi yang baik untuk ikan dan unggas. Dimana memiliki kadar protein sekitar 43 persen dalam keadaan utuh, dan 30 sampai 40 persen jika dijadikan pelet. (*)

Penulis: Indra Simanjuntak
Editor: Romi Rinando
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved