Breaking News:

Bandar Lampung

Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Akta Tanah, Warga Bandar Lampung Mengaku Diminta Uang Pelicin

Farid menuturkan dugaan kecurangan ini bermula saat ia melaporkan kasus klaim akta tanah milik orangtuanya yang diduga dipalsukan.

Tribunlampung.co.id/Domi
Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Akta Tanah, Warga Bandar Lampung Mengaku Diminta Uang Pelicin 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Laporan dugaan pemalsuan tanda tangan akta tanah, seorang pelapor mengaku dimintai uang pelicin.

Alhasil pria ini membuat surat yang ditujukan Kapolri agar mendapat keadilan atas dugaan kecurangan ini.

Pria tersebut diketahui bernama Farid Firmansyah warga Jl. Z.A Pagar Alam, Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Farid menuturkan dugaan kecurangan ini bermula saat ia melaporkan kasus klaim akta tanah milik orangtuanya yang diduga dipalsukan.

"Jadi ada yang mengaku-ngaku telah membeli tanah dari ayah yang saat itu katanya ayah berumur 50 tahun, padahal jelas-jelas ayah saya meninggal umur 46 tahun, maka kami lapor ke Polda Lampung, dengan dugaan pemalsuan tanda tangan akte," ujarnya, Senin (15/2/2021).

Laporan itupun tertuang dalam nomor: STTPL/212/II/2019/LPG/SPKT Senin tanggal 11 Februari 2019 dengan lokasi lahan di Jalan Soekarno Hatta, Bandar Lampung. 

Lanjutnya, laporan tersebut berproses hingga ia diajak oleh penyidik ke Puslabfor Mabes Polri yang ada di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) dengan tujuan untuk meneliti keaslian tanda tangan milik orangtuanya dan yang dipalsukan oleh terlapor pada 1 September 2019.

"Disana (Pelembang) kami menghadap Kompol R, dan dilihat lah berkas aduan kami tadi, lalu penyidik yang bersama saya, Bripka H pun bilang kalau mau dibantu ada biaya yang harus dikeluarkan dengan menyiapkan uang sebesar Rp 120 juta,” katanya.

Masih kata Farid, sebulan kemudian tepat pada tanggal 6 November 2019 ia diajak kembali penyidik lagi untuk menuju ke Puslabfor Palembang.

"Kami ke sana membawa surat pembanding yakni AJB, yang statusnya sama namun permintaan tersebut berubah menjadi Rp 150 juta, kami pun meminta DP sebesar Rp 70 juta dan akan melunasi jika kasus selesai tapi ditolak," ujar Farid.

Halaman
12
Penulis: Dominius Desmantri Barus
Editor: Reny Fitriani
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved