Apa Itu
Apa Itu Kain Tapis
Masyarakat Lampung memiliki beragam warisan budaya, salah satunya adalah kain tapis. Berikut ini adalah penjelasan tentang apa itu kain tapis.
Penulis: Virginia Swastika | Editor: Hurri Agusto
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Simak berikut ini tentang apa itu kain tapis.
Menurut laman resmi Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, kain tapis adalah kain wanita berbentuk sarung yang terbuat dari tenun benang kapas dengan motif alam flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan perak dengan cara sulam cucuk.
Tapis dipakai oleh wanita dari suku yang ada di masyarakat adat Saibatin dan masyarakat adat Pepadun.
Ini berarti kain tapis digunakan oleh wanita Lampung dipesisir dan pedalaman.
Kain ini dibuat oleh ibu-ibu rumah tangga dan muli-muli (gadis) dalam waktu senggangnya dengan tujuan memenuhi tuntuan adat istiadat yang diangkat sakral dimana kain tapis merupakan salah satu bagian penting pakaian adat.
Dilansir dari Kompas.com (26/9/2019), kain tapis ini memliki corak atau motif yang berbeda.
Misalnya saja, tapis pepadun, tapis peminggir, tapis lawa dan tapis ambung biasanya memiliki motif yang dipengaruhi daerah asalnya.
Sementara tapis peminggir (pesisir) lebih sering mengangkat tema flora dan tapis pepadun (pedalaman) cenderung sederhana dan kaku.
Cikal bakal kain tapis dimulai sejak abad ke-2 SM dengan motif pohon hayat, flora dan fauna.
Pada masa sekarang kain tapis sudah menjadi komuditi yang bernilai tinggi.
Pada masa pembuatan pertama, kain tapis memiliki motif kait dan kunci, pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia yang sudah meninggal.
Ada juga kain tapis yang disulam dengan benang sutera putih yang disebut kain tapis Inuh.
Hingga saat ini, kain tapis masih dibuat secara tradisional.
Satu helai kain tapis biasanya membutuhkan waktu hingga berminggu-minggu, tergantung kerumitan motif, proporsi penggunaan benang emas serta umur kain.
Tak heran jika harga kain tapis lebih mahal.
Penggunaan kain tapis juga tidak bisa sembarangan, tergantung siapa yang menggunakan dan acara yang digelar.
Kain tapis juga dibagi berdasarkan asal pemakainya.
Mulai dari kain tapis dari Pesisir, Pubian Telu Suku, Sungai Way Kanan, Tulang Bawang Mego Pak, Abung Siwo Mega dan lainnya.
Seiring dengan berjalannya waktu, kain tapis juga semakin beragam, mulai dari motif dan warna. Pembuatan kain tapis juga ada yang menggunakan mesin bordir.
Dengan menggunakan mesin, produksi kain tapis bisa dilakukan secara massal dan waktu pengerjannya juga lebih cepat.
Teknik bordir juga dibagi menjadi manual dan dengan komputer.
Dari segi harga, tapis dengan menggunakan mesin bordir lebih mahal karena tingkat kerumitan saat pengerjaan.
Penggunaan kain tapis sangat erat kaitannya dengan penggunaan secara praktis dan fungsi simbolis yang kemudian diberi makna ritual.
Muatan simbol pada kain tapis adalah sebagai penghubung dari berbagai makna pelaksanaan upacara adat di sepanjang lingkaran hidup manusia.
Makna simbolis yang terkandung dalam motif kain tapis selalu berkaitan dengan lingkungannya, secara filosofis erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Lampung baik masyarakat Lampung pesisir/saibatin maupun masyarakat Lampung pepadun.
Sebagai contoh motif tapis dengan motif kapal, kapal dianggap sebagai kendaraan yang membawa perjalanan kehidupan manusia mulai dari kelahiran, masa anak-anak, masa remaja, dewasa, masa perkawinan, sampai pada masa kematian.
Motif ini dianggap sebagai simbol perjalanan hidup manusia.
Dilansir dari laman Kemdikbud, kain tapis juga mencerminkan status sosial seseorang dalam masyarakat adat, apakah dia sebagai tokoh adat, tokoh masyarakat, dan mencerminkan tingkat kepenyimbangan.
Karena jenis kain tapis tertentu hanya dimiliki dan dipergunakan oleh kalangan terbatas, seperti pada kelompok pemimpin adat/penyimbang.
Fungsi praktis kain tapis pada umumnya dikenakan oleh kaum wanita saat ada acara-acara adat.
Berbagai tata cara penggunaan dan letak kain mengisyaratkan bahwa kain tapis sangat menentukan kesempurnaan dalam persyaratan kesucian dan keagungan sebuah upacara adat.
Tak hanya itu, kain tapis juga bisa digunakan oleh penari, sebagai mas kawin pada upacara perkawinan, sebagai hadiah pada upacara perkawinan maupun khitanan, penutup dan pembungkus makanan, alas kepala dan alas tempat duduk dalam berbagai upacara adat, sapu tangan pengantin wanita serta penutup punggung mempelai (kain nampan). ( Tribunlampung.co.id / Virginia Swastika )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/kain-tapis-yuhanna-di-lampung-selatan-pernah-dibeli-orang-jepang.jpg)