Penembakan di Mabes Polri
Teroris Serang Mabes Polri, BIN: Ngacak Sekali, Adik Ini Sama Sekali Tidak Mengerti
Zakiah Aini, terduga teroris serang Mabes Polri tampak seperti amatir yang tidak jelas siapa target yang disasar.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID -- Zakiah Aini, terduga teroris serang Mabes Polri tampak seperti amatir yang tidak jelas siapa target yang disasar.
Deputi VII Badan Intelejen Negara (BIN) Wawan Purwanto mengatakan, Zakiah Aini tampak bingung saat melakukan penyerangan di Mabes Polri.
Wawan bahkan mempertanyakan siapa sebenarnya sasaran yang dituju oleh Zakiah Aini di Mabes Polri.
"Betul (amatir), tidak terencana secara baik dan ngacak sekali dan sama sekali tidak ada korban, siapa yang mau dituju sehingga seperti orang bingung," kata Wawan.
Maka dari itulah, tindakan ZA kata Wawan sudah sepatutnya menjadi bagi kaum muda agar tidak mudah untuk melakukan tindakan seperti itu.
Wawan Purwanto berpesan agar anak muda lebih dekat dengan orangtua sehingga tidak terjerumus dalam konflik seperti ini.
"Ini juga pesan bagi kaum muda untuk tidak segampang itu melakukan sesuatu lebih baik kita dengarkan semua pihak, khususnya dekatlah dengan orangtua sehingga tidak terseret pada arus pusaran konflik seperti ini," kata Wawan Purwanto.
Zakiah Aini, teroris yang serang Mabes Polri dinilai seperti orang bingung saat melakukan penembakan hingga akhirnya tewas ditembak polisi.
Menurut Wawan, Zakiah Aini tampak seperti orang yang tidak terlatih.
Wawan berujar, sikap dan tindakan Zakiah Aini di Mabes Polri seperti sama sekali tidak mengerti ilmu perang.
"Persoalannya adik satu ini tidak berlatih menembak dengan pola formasi tempur, dia masih sama sekali tidak mengerti ilmu perang," kata Wawan.
"Itu anda baca dari tingkah laku di CCTV ?" timpal Najwa Shihab.
Sikap dan tingkah yang dimaksud Wawan adalah seperti tidak merunduk dan berlindung saat menyerang Polisi.
"Tidak merunduk di lokasi yang aman, tidak tiarap, tidak di gorong-gorong atau berdiri di balik sebuah perlindungan yang cukup, malah membiarkan dirinya ditembak," kata Wawan Purwanto.
Bahkan ketika berhadapan dengan petugas, ZA terlihat hanya menodongkan senjata saja.
"Ketiak dia berhadapan dengan petugas yang siap hanya menodongkan tidak melesatkan peluru," kata Wawan.
"Jadi ini yang masih salah satu indikasi dia belum berlatih secara trik militer atau pola serang yang mestinya dilakukan sehingga sama sekali tidak ada korban," imbuh Wawan.
Selain itu, petugas yang sigap saat menghadapi serang ZA membuat tak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
"Di samping itu memang capicity building markas memang diperkuat jadi senjata itu melekat sehingga ada alarm seperti ini lantas terkepung dia, jadi si ZA ini tidak mempelajari secara detail analisa sasaran," kata Wawan.
Penjelasan Kapolri
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan, perempuan berinizial ZA itu awalnya datang ke Mabes Polri sekitar pukul 16.30 WIB.
Ia masuk dari pintu belakang dan berjalan ke arah ke pos gerbang utama Mabes Polri.
Pelaku pura-pura menanyakan di mana lokasi kantor pos.
Lalu oleh anggota diberikan pelayanan dengan menunjukkan arah kantor pos.
"Setelah dari kantor pos pelaku lalu kembali lagi ke pos jaga di pintu depan dan melakukan penyerangan kepada anggota di pos jaga tersebut," kata Sigit dalam konferensi pers di Mabes Polri, Rabu (31/3/2021).
Sigit mengatakan, ZA melepaskan tembakan sebanyak 6 kali.
Sebanyak 2 tembakan diarahkan kepada anggota di dalam pos jaga, 2 tembakan kepada anggota di luar pos jaga, dan 2 tembakan lagi kepada anggota yang ada di belakangnya.
Mendapat serangan itu, polisi kemudian langsung melumpuhkan ZA. "Terhadap tindakan tersebut petugas kemudian melakukan tindakan tegas terukur," kata Sigit.
Sigit mengatakan, dari penyelidikan yang dilakukan, ZA diketahui berusia 25 tahun dan beralamat di Jalan Lapangan Tembak, Ciracas, Jakarta Timur.
"Berdasarkan identifikasi memang identitasnya sesuai. Berdasarkan profiling maka yang bersangkutan adalah tersangka lone wolf yang berideologi radikal ISIS yang dibuktikan postingannya di sosial media," kata Sigit.
Selain itu, kata Sigit, ZA diketahui merupakan mantan mahasiswi di salah satu kampus dan drop out (DO) saat semester 5.
Dari hasil pendalaman yang dilakukan polisi juga didapatkan beberapa temuan terkait dengan barang yang dibawa ZA.
Perempuan muda itu kata Sigit, membawa map kuning yang di dalamnya ada amplop bertuliskan kata-kata tertentu.
"Pelaku juga memiliki instagram yang baru dibuat 21 jam lalu, di mana di dalamnya ada bendera ISIS dan tulisan bagaimana perjuangan jihad," kata Sigit.
Sebelum melakukan aksinya ZA ternyata juga sempat meninggalkan surat wasiat dan ada kata-kata di WA grup keluarga bahwa ia akan pamit.
"Saya sudah perintahkan Kadensus (Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror) untuk memburu kemungkinan kelompok yang berkaitan dengan tersangka ini," ujar Sigit.
Selain itu, Kapolri juga memerintahkan kepada anggotanya untuk tetap memberikan pelayan kepada masyarat sembari tetap meningkatkan kewaspadan di markas komando maupun saat bertugas di lapangan.
"Kami minta tetap berikan layanan total pada masyarakat," ujar Sigit.
Di kesempatan itu Sigit juga menjelaskan bahwa polisi sudah menangkap total 23 orang pascaperistiwa serangan bom di Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3/2021).
Dari 23 orang itu, 13 di antaranya ditangkap di Makassar, termasuk W yang merupakan pelaku perakit bom.
Selain di Makassar, polisi juga menangkap 5 orang terduga teroris di Jakarta, dan 5 terduga teroris di Bima, Nusa Tenggara Barat. "Ini akan terus kita kembangkan dan kita usut," katanya.
Artikel ini telah tayang di bogor.tribunnews.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/zakiahaini-teroris-serang-mabes-polri.jpg)