Breaking News:

Pringsewu

Warga Hilir Bendungan Way Sekampung Lampung Berharap Pemerintah Bangun Jembatan Permanen

Dua wilayah di Kabupaten Pringsewu yang terpisah Sungai Way Sekampung berharap adanya akses jembatan penghubung permanen.

Penulis: Robertus Didik Budiawan Cahyono | Editor: soni
Tribun Lampung / R Didik Budiawan
Rakit bambu menjadi alat transportasi penyeberangan masyarakat Pekon Banjarejo Kecamatan Banyumas- Pekon Bumi Arum, Kecamatan Pringsewu melintasi Sungai Way Sekampung. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PRINGSEWU - Dua wilayah di Kabupaten Pringsewu yang terpisah Sungai Way Sekampung berharap adanya akses jembatan penghubung permanen.

Kedua wilayah ini berada di hilir Bendungan Nasional Way Sekampung. Yaitu Pekon Banjarejo, Kecamatan Banyumas dan Pekon Bumi Arum Kecamatan Pringsewu.

Selama ini, warga di dua wilayah tersebut hanya dihubungkan dengan transportasi penyeberangan berupa rakit yang terbuat dari bambu.

Penyeberangan rakit atau getek ini merupakan akses terdekat yang menghubungkan antara dua kecamatan itu.

Minok, seorang warga di Pekon Banjarejo menuturkan bila jembatan permanen ini nantinya sangat banyak sekali manfaatnya.

"Sebagai akses terdekat penghubung antaran Banyumas-Pringsewu," kata Minok.

Ditambahkan Minok, selama ini masyarakat Banyumas yang hendak ke ibu kota Kabupaten Pringsewu harus melalui jalur memutar melewati Kecamatan Sukoharjo.

Selain lebih jauh, dengan rute memutar itu lebih memakan waktu.
Minok yang juga sebagai penyedia jasa penyebrangan rakit ini ikut senang bila jembatan permanen dibangun di tempat itu.

Dia tidak mempersoal rezekinya dari penyeberangan getek tergantikan dengan jembatan permanen.

"Mungkin nanti ada rezeki lain, (jembatan permanen) manfaatnya banyak sekali, semua orang senang yang jelas," tukasnya.

Baca juga: Rencana Jembatan Permanen di Hilir Bendungan Way Sekampung Lampung Terkendala Anggaran

Narto, warga Pekon Bumi Arum, mengatakan, bila jasa penyeberangan rakit itu justru banyak dimanfaatkan orang yang hendak menjual hasil bumi ke Pasar Pringsewu.

Sebab, tambah dia, melalui jasa penyebrangan itu aksesnya sangat dekat. Narto mengungkapkan, bahwa sekitar tahun 1970-an di lokasi tersebut ada jembatan gantung.

Dwin mengatakan jembatan gantung yang pernah ada itu sudah hilang tersapu arus sungai.

"Sejak sekitar tahun 1990-an jembatan gantung itu sudah tidak ada," ujar Narto.

Sampai saat ini akses yang menghubungkan dua wilayah di lokasi itu hanya berupa rakit. ( Tribunlampung.co.id / Robertus Didik Budiawan Cahyono )

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved