Breaking News:

Tanggamus

Break Water Pelabuhan Perikanan Kota Agung Lampung Dibangun dengan Tiang Pancang

Perairan Pelabuhan Perikanan Kota Agung kini dibangun break water model tiang pancang. break water yang dibangun saat ini beda dengan break water yang

Penulis: Tri Yulianto | Editor: soni
dokumentasi
Pembangunan break water di perairan Pelabuhan Kota Agung dengan tiang pancang 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, TANGGAMUS - Perairan Pelabuhan Perikanan Kota Agung kini dibangun break water model tiang pancang. 

Menurut Abdullah, pengawas lapangan dari CV Sahabat Utama, break water yang dibangun saat ini beda dengan break water yang ada sebelumnya. Meski masih satu garis dengan break water yang sudah ada.

Pada break water sebelumnya dibangun dengan material bebatuan. Namun kini dengan tiang pancang lalu bagian atasnya akan dicor dan dibuat saking terkait antar tiang pancangnya.

"Pemecah ombak yang sekarang beda dengan yang lama. Ini pakai tiang pancang tapi sama-sama untuk memecah ombak," ujar Abdullah. 

Ia mengaku, break water dengan tiang pancang tersebut hampir sama dengan pelabuhan di Merak. Hal itu sebagai solusi dari masalah dampak break water dengan bahan batu berimbas pada beloknya arus laut dan menuju ke arah barat. 

Baca juga: Dibangun Tahun Ini, Jembatan Gantung Sungai Burung Pakai Konstruksi 20 Tiang Pancang

Sehingga pada daerah bagian barat perairan Kota Agung daratannya mengalami abrasi. Hal itu akibat terjangan arus laut yang berbelok akibat terhadang break water batu.

"Jadi dibuatkan pemecah ombak dengan tiang pancang. Ombak tetap pecah tapi arus lautnya tidak belok, tetap bisa lewat diantara tiang pancang," terang Abdullah.

Dengan begitu maka daratan sebelah barat tidak terdampak abrasi namun kekuatan ombak sekitar pelabuhan perikanan atau kolam pelabuhan berkurang. 

Selanjutnya untuk pajang break water 36 meter dan lebar empat meter. Anggaran yang digunakan lebih dari Rp 3 miliar dengan waktu pengerjaan empat bulan, dan jadi kewenangan Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung.

Pembangunan break water di sini sebagai upaya mencegah pendangkalan laut pada kolam pelabuhannya. Sebab di lokasi tersebut cepat sekali mengalami pendangkalan. 

Hal itu akibat arus laut dan adanya beberapa muara sungai yang bermuara di sekitar perairan pelabuhan perikanan. Sungai-sungai tersebut membawa material yang akhirnya berhenti di laut.

Abdullah mengaku, kendala yang dihadapi dalam pembangunan break water di tempat ini adalah cuaca dan ombak cepat berubah. 

Misalnya semula ombak tenang namun beberapa jam kemudian timbul gelombang tinggi. Begitu juga cuaca, semula tidak berangin lalu datang angin kuat. 

Untuk itu harus cepat penyesuaiannya dalam menancapkan tiang pancang. Dan selama ini pekerjaan dilakukan siang malam sebagai upaya menyesuaikan dengan kondisi cuaca tersebut. ( Tribunlampung.co.id / Tri Yulianto )

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved