Breaking News:

Lampung Timur

Kejari Lampung Timur Setop Penuntutan, Kasus Ayah Curi Getah Karet Demi Susu Anak

Penghentian tersebut berdasarkan keadilan restorative terhadap perkara pencurian getah karet senilai Rp 600 ribu.

Editor: Reny Fitriani
Kompas.com
Ilustrasi - Kejari Lampung Timur Setop Penuntutan, Kasus Ayah Curi Getah Karet Demi Susu Anak 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID. LAMPUNG TIMUR - Kejaksaan Negeri (Kejari) Lampung Timur menghentikan penuntutan terhadap perkara pencurian getah karet di Lampung Timur, Rabu (29/9/2021).

Penghentian tersebut berdasarkan keadilan restorative terhadap perkara pencurian getah karet senilai Rp 600 ribu.

Untuk diketahui, konsep pendekatan restorative justice merupakan suatu pendekatan yang lebih menitikberatkan pada kondisi terciptanya keadilan dan keseimbangan bagi pelaku tindak pidana serta korbannya sendiri.

Mekanisme tata acara dan peradilan pidana yang berfokus pada pemidanaan diubah menjadi proses dialog dan mediasi untuk menciptakan kesepakatan atas penyelesaian perkara pidana yang lebih adil dan seimbang bagi pihak korban dan pelaku.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Lampung Timur, Ariana dengan didampingi Kasi Pidum Merryon H Putra serta Kasi Intelijen M A Qadri mengatakan, telah menghentikan penuntutan tersebut.

"Kemarin pada hari Selasa, 28 September 2021, pukul 15.00 WIB, kami menghentikan penuntutan perkara nama Eksan Taufik, yang melanggar Pasal 362 KUHP dengan nilai kerugian berupa 67 kilogram getah karet senilai Rp 600 ribu," ujarnya.

Menurutnya, Eksan melakukan pencurian itu, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, yakni membeli susu untuk kedua anaknya yang masih berumur dua tahun dan delapan tahun.

"Sebelum dilakukan kegiatan restorative justice, saksi korban dan tersangka telah bersepakat untuk berdamai yang dituangkan dalam surat perjanjian perdamaian yang disaksikan oleh kepala desa, orang tua korban dan tokoh masyarakat pada Selasa (21 September 2021) lalu," ungkap Ariana.

Ariana juga mengungkapkan, kegiatan restorative justice ini dilakukan sesuai dengan Peraturan Kejaksaan Nomor 15 tahun 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif.

"Penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restorative tersebut adalah penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga dan pihak lain yang terkait, untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula dan bukan pembalasan," ungkapnya. 

( Tribunlampung.co.id / Yogi Wahyudi )

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved