Breaking News:

Bandar Lampung

FJPL Lampung Dorong Peran Jurnalis Ungkap Kasus Asusila di Media

Forum Jurnalis Perempuan Lampung (FJPL) mengupas terkait bagaimana seharusnya peran jurnalis saat memberitakan kasus asusila di media

Penulis: sulis setia markhamah | Editor: soni
dokumentasi
Diskusi perdana yang digelar FJPL membahas Peran Jurnalis dalam Memberitakan Kasus Pelecehan atau Kekerasan Seksual/ Screenshot zoom meeting   

 
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Forum Jurnalis Perempuan Lampung (FJPL) mengupas terkait bagaimana seharusnya peran jurnalis saat memberitakan kasus asusila di media dengan menghadirkan narasumber berkompeten.

Dalam diskusi, FJPL menghadirkan tiga narasumber yakni Direktur Eksekutif Lembaga Advokasi Perempuan Damar Lampung Ana Yunita Pratiwi, Direktur LBH Pers Lampung Chandra Bangkit, dan Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho.  

“Diskusi ini diharapkan dapat memberikan perspektif yang sama bagi media dalam memberitakan kasus pelecehan atau asusila,”  kata Ketua FJPL Vina Oktavia pada diskusi perdana membahas Peran Jurnalis dalam Memberitakan Kasus Pelecehan atau Asusila secara virtual, Minggu (10/10/2021) malam. 

Baca juga: Ada yang demi Pesugihan, Pelaku asusila Anak di Lampung Mayoritas Orang-orang Terdekat

Direktur Eksekutif Lembaga Advokasi Damar Lampung Ana Yunita Pratiwi mengatakan, seorang jurnalis harus memiliki perspektif dan empati pada korban agar tidak membuat trauma baru ketika kasusnya muncul di publik. 

"Dalam pemberitaan, jurnalis seringkali hanya menginisialkan nama korban, tapi tetap menulis alamat rumah maupun identitas keluargamya," beber Ana.

Hal itu membuat korban justru mendapat perudungan dan trauma. Bahkan, ada korban yang diberhentikan dari tempat kerjanya setelah kasus asusila yang dialaminya di angkat ke media massa. 

Menurut Ana, Komnas Perempuan pernah melakukan monitoring terhadap sembilan media yang memberitakan kasus asusila. 

Hasilnya, pelanggaran paling banyak adalah penggunaan diksi yang bias, pilihan kata yang perempuan seperi objek seks, mengungkapkan identitas korban, hingga stigma korban yang menimbulkan kekerasan. 

Direktur LBH Pers Lampung Chanda Bangkit mengungkapkan, kasus asusila termasuk berita yang menarik perhatian pembaca. 

Namun, media sering kali lupa dengan dampak psikologis korban akibat pemberitaan yang berulang-ulang. Apalagi, judul artikel yang ditampilkan kerap bombastis dan isi pemberitaan justru menyudutkan korban.

Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho dalam kesempatan yang sama mengatakan, jurnalis harus berpihak pada kebenaran saat meliput kasus asusila.

“Bagaimana jurnalis bisa memberitakan kasus asusila jika dia tidak memihak kepada penyintas, ini soal perspektif. Pers harus menyuarakan mereka yang tidak mampu bersuara,” ujarnya. 

Menurut dia, media massa di Indonesia dapat mencontoh pemberitaan pelaku asusila Reynhard Sinaga oleh media massa di Manchester, Inggris. Di mana media massa nyaris tidak membahas soal korban, melainkan fokus pada tindakan pelaku yang kejam.

Diskusi ini sekaligus memperkenalkan FJPL yang dibentuk oleh sembilan jurnalis perempuan di Lampung pada 18 September 2021. ( Tribunlampung.co.id / Sulis Setia Markhamah )

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved