Berita Terkini Nasional

Bocah SD Tewas Dianiaya Bapaknya Gara-gara Main Layang-layang dengan Adik

Korban yang masih berusia 13 tahun mengalami luka di bagian kepala dan lehernya akibat pukulan pedang-pedangan yang terbuat dari kayu.

Tribun Jabar
ILUSTRASI. Korban I Kadek Sepi meninggal dunia setelah dipukuli ayah kandungnya menggunakan pedang-pedangan gara-gara main layang-layang. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Kematian bocah SD yang dianiaya ayah kandungnya hingga meninggal dunia gara-gara main layangan menyisakan duka mendalam pada guru-guru di sekolahnya.

Korban I Kadek Sepi meninggal dunia setelah dipukuli ayah kandungnya menggunakan pedang-pedangan.

Korban yang masih berusia 13 tahun mengalami luka di bagian kepala dan lehernya akibat pukulan pedang-pedangan yang terbuat dari kayu.

I Kadek Sepi selama ini bersekolah di SD Negeri 4 Purwakerti, Kecamatan Abang, Karangasem, Bali.

Guru dan juga teman-teman korban yang tak menyangka Kadek Sepi meninggal dunia gara-gara dianiaya ayahnya, mengalami duka mendalam setelah kepergian mendadak siswanya.

Keluarga SD Negeri 4 Purwakerti berduka setelah siswa yang bernama Kadek Sepi (13) dinyatakan meninggal dunia.

Baca juga: Ayah Pukuli Anaknya Pakai Mainan Pedang-pedangan hingga Meninggal Dunia

Baca juga: Ibu Tak Setuju Anak Gadis Dilamar, 3 Hari Menghilang Ditemukan Sudah Meninggal

I Kadek Sepi merupakan siswa yang dikenal ceria, ramah terhadap guru dan siswa.

Sang siswa juga diketahui senang bergurau, sopan, serta polos.

I Ketut Suarta, Guru di SDN 4 Purwakerti, bercerita,  I Kadek Sepi adalah sosok ramah dan rajin.

Semangat untuk menuntut ilmu ke sekolah sangat tinggi.

Datang ke sekolah tepat waktu walaupun jarak antara rumah dengan sekolah sangat jauh.

Bocah ini tak pernah terlambat datang ke sekolah.

Bocah kelas VI ke sekolah dengan berjalan kaki. Hanya seorang diri.

Tanpa ditemani orang tua. Jarak yang ditempuh sekitar 30 sampai 45 menit dari rumah ke sekolah.

Jalan yang dilalui terjal, serta menanjak. Kemungkinan berangkat pukul 06.00 wita, saat langit masih agak gelap.

"Saya salut dengan semangat Sepi. Tidak pernah terlambat datang sekolah.

Dia sampai sebelum guru datang. Sampai disekolah sekitar jam setengah 7 pagi.

Semangat menuntut ilmu tinggi,"kenang Ketut Suarta. Tak pernah mengeluh dengan kondisi ini.

Tidak hanya itu, kata Suarta, Kadek Sepi merupakan murid rajin.

Pekerjaan rumah (PR) yang diberikan oleh gurunya selalu dikerjakan tepat waktu.

Orangnya pintar. Hampir semua guru di SD N 4 Purwakerti senang dengan I Kadek Sepi.

Kadang guru membelikan jajan untuk bekal jalan saat pulang.

"Dia itu disayangi sama guru - guru. Saat pulang sekolah, pasti ada guru yang membelikan jajan untuk bekal perjalanan pulang. Kadang saya kasihan melihat Kadek Sepi berjalan di siang hari," tambah Ketut Suarta.

Sepi merupakan satu dari tiga siswa SD yang rumahnya di atas perbukitan.

Ditambahkan, guru serta siswa di SDN 4 Purwakerti kaget usai mendengar informasi jika Kadek Sepi meninggal dunia.

Mereka tidak percaya. Mengingat yang bersangkutan sehat dan tak pernah mengeluh sakit apapun.

Selama belajar disekolah, dia tak pernah memperlihatkan wajah sedih.

"Guru dan siswa di SDN 4 Purwakerti kaget setelah mendengar info kematiannya. Awalnya guru tidak percaya. Dia selalu ceria saat bermain dengan teman. Hubunganya dengan guru sangat baik dan erat," aku guru dari Culik.

Semua guru mendoakan agar Sepi mendapat tempat yang terbaik.

Untuk diketahui, sejumlah guru juga sudah sempat melayat ke rumah I Kadek Sepi untuk menyampaikan belasungkawa. Saat itu guru diterima oleh keluarga.

Ayah jadi tersangka

Ayah aniaya anak kandung hingga meninggal dunia di Bali. Korban yang masih berusia 13 tahun dianiaya karena main layang-layang dan tak mau membantu orangtua.

Menurut pengakuan pelaku, korban sejak pagi bermain layangan bersama adiknya dan tidak mau membantu pekerjaan orang tuanya.

Pelaku memukuli anaknya di bagian kepala dan lehernya menggunakan pedang-pedangan yang terbuat dari kayu.

Mendapat penganiayaan dari ayahnya, korban sempat mengerang kesakitan dan menangis terisak.

Mirisnya, pelaku malah semakin menjadi-jadi menganiaya korban.

Ia menganiaya anaknya menggunakan bambu hingga terjatuh ke lantai dan kejang-kejang.

Baca juga: Ayah Korban Protes ke Polisi: Anak Saya Dikepung sebelum Meninggal kok Tidak Diperagakan

Baca juga: Warga Berlarian Mendekati Suara Ledakan, Ternyata Suami Istri Tewas Ditabrak Kereta

Korban meninggal dunia 

Kasus penganiayaan hingga menyebabkan anak meninggal dunia terungkap saat jasad korban dimandikan.

Keluarga curiga kondisi badan bocah SD bernama Kadek Sepi (13) lebam-lebam di sejumlah bagian.

Karena curiga, keluarga kemudian melapor ke polisi.

Berdasar hasil autopsi autopsi, Kadek Sepi dinyatakan tewas karena dianiaya oleh ayahnya sendiri, I Nengah Kicen (32).

Pembunuhan itu terjadi di Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali.

Diketahui, bocah tersebut meninggal secara mendadak pada September 2021 lalu.

Sebelum meninggal, korban sempat terlihat bermain di rumahnya.

Kejanggalan kematian Sepi terungkap saat jenazahnya hendak dimandikan.

Keluarga dan kerabat melihat adanya lebam di leher dan dada korban.

Mengutip Tribun Bali, setelah dimandikan, jenazah korban kemudian langsung dimakamkan.

Namun, keluarga dan kerabat yang penasaran dengan kematian Sepi kemudian melaporkan temuan itu ke Polsek Abang.

Akhirnya makam korban dibongkar untuk autopsi jenazahnya.

Ayah jadi tersangka

Untuk mengungkap kasus ini, polisi telah meminta keterangan dari sejumlah saksi, termasuk ayah korban.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, polisi kemudian menetapkan ayah korban sebagai tersangka dalam kasus tewasnya Sepi.

Hal tersebut diungkapkan oleh kuasa hukum Kicen, I Wayan Lanus Artawan, Senin (11/10/2021).

Dikatakan Lanus, status klien-nya dinaikkan menjadi tersangka pada 7 Oktober 2021.

"Tanggal 6 Oktober dimintai keterangan oleh penyidik, tanggal 7 Oktober ada surat perintah penangkapan, pemberitahuan, penangkapan, dan surat penetapan tersangka," ungkapnya.

Penetapan tersangka ini, kata Lanus, mengacu pada dua alat bukti lazim yang ditemukan oleh penyidik kepolisian.

Dua alat bukti lazim itu yakni berupa keterangan saksi dan beberapa barang bukti.

"Karena sudah ada dua alat bukti cukup kuat untuk menetapkan bersangkutan sebagai tersangka," terangnya.

Aniaya korban pakai benda tumpul

Diberitakan Tribun Bali, Kapolres Karangasem, AKBP Ricko Abdillah Andang Taruna, mengatakan luka lebam yang ditemukan di tubuh korban dikarenakan pukulan benda tumpul.

"Penyebab kematian karena kekerasan benda tumpul pada leher mengakibatkan terlepasnya sendi tulang leher dan menimbulkan robekan pembuluh nadi yang berada di sekitar saluran penonjolan tulang belakang," kata Kapolres.

Ricko mengungkapkan, pelaku nekat menganiaya korban karena kesal.

Sebab, sejak pagi korban bermain layangan bersama adiknya dan tidak mau membantu pekerjaan orang tuanya.

"Selasa (21/9/2021) sekitar pukul 07.30 Wita, korban bersama dua adiknya main layangan, sedangkan orang tuanya cari rumput."

"Setelah mencari rumput, Kicen sempat istirahat beberapa menit serta melihat anaknya sedang bermain air di rumah," beber Ricko.

Melihat itu, Kicen kesal lalu bertanya ke korban, "Sudah selesai bermain layangan?"

Mendengar pertanyaan ayahnya, korban menjawab sudah selesai bermain layangan karena panas.

Dari situ, emosi Kicen tak terbendung lalu menganiaya anaknya hingga tewas.

"Kicen mengambil pedang-pedangan di lantai lalu memukul kepala dan lehernya."

"Pedang-pedangan ini terbuat dari kayu, panjangnya sekitar 56 sentimeter berwarna cokelat muda," ungkapnya.

Korban sempat menangis kesakitan

Mendapat penganiayaan dari ayahnya, Sepi sempat mengerang kesakitan dan menangis terisak.

Mirisnya, pelaku malah semakin menjadi-jadi menganiaya korban.

Ia menganiaya anaknya menggunakan bambu hingga terjatuh ke lantai dan kejang-kejang.

Setelah itu, pelaku mengangkat anaknya dan dibawa ke kamar.

Di kamar itu, Kicen mengambil baju untuk membekap mulut dan hidung korban.

"Karena menangis keras akibat kesakitan, tersangka membekap mulut dan hidung korban dengan kain beberapa menit."

"Setelah itu bekapannya dibuka dan suara mengecil seperti bengek," papar Ricko.

Kicen kemudian meninggalkan anaknya di kamar, selang beberapa menit Sepi dinyatakan meninggal. (*)

Artikel ini telah tayang di bali.tribunnews.com

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved