Bandar Lampung

Lampung Sudah Membaik, Pertambahan Kasus Covid-19 hanya Satu Digit

Pertambahan kasus Covid-19 terus melandai, bahkan dalam dua hari terakhir sudah satu digit atau di bawah 10 kasus.

Editor: Reny Fitriani
Istimewa
Ilustrasi - Lampung Sudah Membaik, Pertambahan Kasus Covid-19 hanya Satu Digit 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Hari-hari terakhir ini kondisi Lampung semakin membaik setelah dihajar pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

Pertambahan kasus Covid-19 terus melandai, bahkan dalam dua hari terakhir sudah satu digit atau di bawah 10 kasus.

Tak hanya itu, jumlah pasien yang meninggal akibat Covid pun sudah sangat rendah.

Dalam dua hari terakhir bahkan pertambahannya nol.

Sedangkan tiga hari sebelumnya masing-masing hanya satu kasus.

Baca juga: Disdikbud Lampung Akan Ajukan Kuantitas Anggaran Bantuan Sekolah

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 Lampung, pada Jumat (22/10) penambahan kasus Covid cuma 5 orang saja.

Sementara sehari sebelumnya, Kamis (21/10), cuma tambah 3 kasus.

Pada 19 dan 20 Oktober masing-masing tambah 10 kasus.

Sepanjang Oktober ini, rata-rata penambahan kasus harian Covid di bawah 30 kasus.

Kondisi di atas berbeda jauh dengan penambahan kasus Covid pada Juli-Agustus 2021.

Baca juga: Duka Keluarga Korban Hanyut di Sungai Way Besai Way Kanan, Almarhum Tri Sosok Suka Menolong

Pada bulan-bulan tersebut, penambahan kasus harian Covid mencapai ratusan orang.

Bahkan pernah mencapai 717 kasus dalam sehari pada 4 Agustus 2021.

Memasuki September, penambahan kasus Covid ini mulai menurun dengan rata-rata dibawah 100 kasus per harinya.

Kepala Dinas Kesehatan Lampung yang juga Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Lampung, Reihana mengatakan, kondisi itu berkat kerja keras semua pihak yang terus menggencarkan testing hingga tracing.

Selain itu, vaksinasi juga terus digenjot.

Meski begitu, ia meminta warga tetap waspada.

Protokol kesehatan harus tetap dijaga.

Agar tetap terhindar dari serangan virus corona.

"Insya Allah tetap menurun kasus Covid di Lampung dan masyarakat harus tetap waspada. Kita juga terus menerapkan testing hingga tracing," katanya.

Sampai Jumat, kata Reihana, total kasus Covid di Lampung sebanyak 49.504.

Namun dari jumlah tersebut, sebanyak 45.063 orang sudah sembuh dari Covid.

Lalu ada 3.810 orang yang meninggal dunia.

Jadi kini tersisa 631 orang yang masih terkonfirmasi Covid.

Saat ini seluruh daerah juga sudah berzona kuning.

Gelombang Ketiga

Secara nasional, kasus Covid di Indonesia memang terus melandai.

Kasus aktif saat ini tercatat hanya di angka 15 ribuan.

Positivity rate hanya sebesar 0,6 persen.

Tingkat kematian pun sangat rendah.

Meski demikian, pemerintah terus mengingatkan agar masyarakat tetap waspada.

Protokol kesehatan harus tetap dijaga.

Karena bukan tidak mungkin kasus positif Covid-19 akan kembali meningkat.

Bahkan, terjadinya gelombang ketiga pandemi Covid-19 di Indonesia disebut suatu keniscayaan.

Menurut Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi, gelombang ketiga kasus Covid-19 pasti akan datang di Indonesia.

Itu bisa terjadi seiring mulai dilonggarkannya protokol kesehatan dalam sejumlah aktivitas masyarakat.

Mobilitas masyarakat pun juga kian meningkat, diiringi dengan intensnya interaksi secara langsung.

Hal itu yang menurut Nadia bisa memicu terjadinya gelombang ketiga.

Direktur Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes itu menjelaskan, terjadinya gelombang ketiga juga sesuai dengan sifat SARS-CoV-2 yang tertera pada jurnal ilmiah yang dikeluarkan para ahli.

"Kita tahu dari jurnal ilmiah menyatakan bahwa Covid menimbulkan gelombang epidemiologi berkali kali. Tidak cukup ia mencapai satu puncak gelombang kemudian turun seperti yang saat ini kita alami. Dia akan menimbulkan serangan beberapa kalim baru mungkin nanti dengan vaksinasi lebih luas bukan hanya masyarakat Indonesia tapi global, baru akan terjadi penurunan kasus," kata Nadia dalam diskusi daring, Jumat.

Indonesia sendiri sudah mengalami dua gelombang puncak corona. Pertama pada Januari 2021, yang kedua Juni-Juli 2021.

Nadia menjelaskan gelombang ketiga kemungkinan besar akan terjadi pada akhir tahun 2021 atau awal 2022.

Contohnya sudah terjadi di sejumlah negara, seperti di China, Inggris hingga Amerika Serikat.

Jaga Prokes

Diketahui, sejumlah negara mengalami lonjakan kasus virus corona.

Di antaranya Rusia, Inggris, Jerman, China, Singapura, Belgia, Slovenia, Polandia, hingga Republik Ceko.

Di China, akibat klaster dari turis, penerbangan jadi banyak yang dibatalkan kembali.

Setidaknya sembilan provinsi mencatatkan kasus baru dalam jumlah yang tak sedikit.

Di Inggris, kasus virus corona mencapai 43.324 dalam sehari yakni pada 19 Oktober lalu.

Alasan lonjakan terjadi karena kegiatan masyarakat sudah benar-benar dilonggarkan.

Sementara di Rusia, ada penambahan lebih dari seribu kasus baru dalam sehari.

Jumlah kematian pun lebih dari seribu kasus dalam sehari tepatnya pada 19 Oktober lalu sehingga pembatasan kegiatan diterapkan kembali.

Menurut Nadia, di negara-negara itu cakupan vaksinasinya sudah lebih dari 70 persen.

Namun ketika dilakukan pelonggaran protokol kesehatan, lalu muncul varian baru, tetap terjadi peningkatan kasus.

"Gelombang ketiga adalah sesuatu yang niscaya atau pasti terjadi. Karena apa? Negara yang sudah mengalami gelombang ketiga memiliki cakupan vaksinasi yang tinggi, memiliki tingkat prokes yang sudah baik seperti di Inggris, AS, prokesnya lebih relaksasi. Mereka sudah enggak pakai masker di tempat terbuka, jaga jarak sudah tak ada. Sementara cakupan vaksinasi 70 persen. Tapi begitu ada varian Delta mereka struggling meski kematian rendah," imbuhnya.

Apalagi peningkatan mobilitas diprediksi bakal terjadi di libur Natal dan Tahun Baru.

Di saat yang sama selalu ada potensi peningkatan kasus.

Oleh karena biasanya relaksasi aktivitas sosial termasuk ibadah dan ekonomi akan berdampak ke kesadaran masyarakat untuk patuh protokol kesehatan.

Lantas seberapa genting situasi gelombang ketiga nanti?

Menurut Nadia mutasi virus SARS-CoV-2 bisa memberikan kontribusi besar pada kenaikan kasus covid-19 di Indonesia.

Kendati demikian, Nadia belum bisa memastikan seberapa tinggi lonjakan kasus Covid-19 pada gelombang tiga.

Dia hanya menyatakan bahwa pemerintah berupaya untuk mengantisipasi lonjakan.

Nadia menjelaskan, angka kasus pada gelombang ketiga bisa ditekan apabila vaksinasi semakin luas. Kesadaran masyarakat tentunya juga harus dijaga.

"Seberapa besar yang terjadi di Desember 2021 atau Januari 2022. Beberapa ahli membuat modelling. Ada yang menyebut kondisinya bisa sama di 2020/2021, bisa sedikit meningkat, atau bahkan lebih tinggi dari Juni. Itu tidak inginkan, situasi yang mencekam sekali. Apa yang kita bisa lakukan? Balancing vaksinasi, testing yang cepat untuk dapat kasus positif dipisahkan dari kasus negatif," ungkapnya.

Oleh karena itu, Nadia meminta masyarakat untuk tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan meski sudah divaksinasi lengkap.

Ia mengatakan, seluruh masyarakat harus tetap waspada sambil menunggu cakupan vaksinasi menjangkau 208 juta target sasaran.

"Nanti ada kondisi tersebut, barulah mungkin kita akan bisa betul-betul full relaksasi tetapi tetap waspada," ucap Nadia.

(tribun network/ais/dod/byu)

Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved