Breaking News:

Lampung Selatan

Sepanjang 2021 Terjadi 43 Kasus Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan di Lampung Selatan

Amel meminta kepada penegak hukum untuk dapat memberikan sanksi yang sesuai dengan perbutan pelaku.

Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus
Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak Provinsi Lampung Amelia Nanda Sarib. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG SELATAN - Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lampung mencatat terjadi 43 kasus tindak pidana kekerasan pada anak dan perempuan di Lampung Selatan selama tahun 2021.

"Terakhir kita update data terkait tindak pidana kekerasan pada anak dan perempuan sebanyak 43 kasus hingga akhir Desember kemarin," kata Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak Provinsi Lampung Amelia Nanda Sarib, Minggu (2/1/2022).

Amel yang juga menjadi aktivis perlindungan anak Lampung Selatan mengaku pihaknya telah membuat iklan layanan masyarakat untuk mencegah tindak pidana kekerasan pada anak dan perempuan.

"Kami mengimbau masyarakat untuk lebih meningkatkan pengawasan kepada anak untuk meminimalisir kasua kekerasan pada anak dan perempuan. Salah satunya dengan membuat iklan layanan masyarakat sampai ke tingkat desa," katanya.

Baca juga: Pelaku Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Lampung Didominasi Orang Dekat

Amel meminta kepada penegak hukum untuk dapat memberikan sanksi yang sesuai dengan perbutan pelaku.

"Untuk penegak hukun semoga ini dapat menjadi me-reminder apa hukuman atau pidana bag pelaku yang melakukan kekerasan terhadap anak dan perempuan," jelas Amel.

Amel mengatakan, banyak kasus tindak pidana kekerasan pada anak yang tidak terlaporkan.

"Banyak juga kasus tindak pidana kekerasan pada anak dan perempuan yang tidak terlaporkan karena terhalang dengan hukum adat. Takut dikucilkan dari pergaulan lingkungan masyarakat," imbuhnya.

"Jadi kita berharap kepada korban maupun orang tua untuk dapat melaporkan setiap kejadian tindak pidana kekerasan pada anak dan perempuan yang mereka alami atau yang anaknya alami," jelasnya.

Amel mengimbau masyarakat untuk lebih mengawasi anak ketika bermain media sosial.

"Kita tetap melakukan pengawasan dalam proses tumbuh kembang anak. Apalagi pengawasan dalam penggunaan gadget pada anak," tandas Amel.

"Orangtua sebagai ruang fondasi dan lingkup awal dari tumbuh kembang anak agar lebih meningkatkan pengawasan dalam bersosmed," pungkasnya.

( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved