SEA Games
Profil Apriyani Rahayu, Atlet Badminton yang Main di SEA Games 2022
Apriyani Rahayu bakal bertanding di SEA Games 2022 mendatang dalam nomor ganda putri badminton bersama Siti Fadia. Berikut profil Apriyani Rahayu.
Penulis: Virginia Swastika | Editor: Kiki Novilia
Tribunlampung.co.id, Jakarta - Atlet spesialis ganda badminton Indonesia, Apriyani Rahayu bakal bertanding di SEA Games 2022 di Vietnam yang digelar pada 12-23 Mei mendatang.
Setelah sempat mengundurkan diri pada laga All England 2022 lantaran mengalami cedera, kini peraih medali emas pada Olimpiade Tokyo 2020 itu akan kembali beraksi.
Dalam kompetisi tingkat internasional itu, Apriyani rencanannya akan dipasangkan dengan Siti Fadia Silva Ramadhanti untuk nomor ganda putri.
Lantas seperti apa profil Apriyani Rahayu, atlet badminton peringkat 6 dunia yang akan bertanding di SEA Games 2022?
Pemain bulu tangkis ini diketahui lahir di Sulawesi Tenggara pada 29 April 1998 dari pasangan Ameruddin dan Sitti Jauhar.
Baca juga: Kick Boxer Lampung Abdul Muis Wakili Indonesia ke SEA Games 2022
Baca juga: Profil Asnawi Mangkualam, Pemain Timnas Indonesia U-23 di SEA Games 2022
Ia merupakan anak bungsu dari empat bersaudara.
Punya tinggi sekitar 163 sentimeter, Apriyani berhasil bertengger di peringkat keenam dunia bersama Greysia Polli.
Dalam biodata Apriyani Rahayu, perempuan 23 tahun ini ternyata sudah menyukai olahraga bulu tangkis sejak usia tiga tahun.
Pertama kali ia diketahui berlatih badminton menggunakan raket milik sang ayah, yang dibeli pada 1993 di Makassar.
Frekuensi latihannya juga begitu tinggi, bahkan tiap hari ditemani orangtuanya menyebabkan raketnya menjadi usang.
Namun pada 2005, Apriyani akhirnya mendapatkan 'senjata' baru dari sang ayah.
Pada 2005, saat Apriyani Rahayu berusia tujuh tahun ia mengikuti lomba badminton tingkat kecamatan.
Baca juga: Profil Jonatan Christie, Pebulu Tangkis yang Absen Bertanding di SEA Games 2022
Baca juga: Profil Gregoria Mariska Tunjung, Atlet Tunggal Putri Badminton di SEA Games 2022
Di 2006, Apriyani mengikuti Porda sekaligus tingkat nasional usia dini dan hanya mendapatkan juara dua.
Hal itu membuatnya tidak lolos ke Jakarta, Apri pun tak puas dan menangis.
Ia dilatih oleh Sapiuddin yang masih merupakan keluarganya.
Sapiuddin pernah berlatih badminton di Sekilah Atlet Ragunan, Jakarta dan kembali ke kampungnya melatih Apriyani dan anak-anak lainnya.
Namun ketika ia kelas 6 SD, atlet bulu tangkis spesialis nomor ganda ini akhirnya bisa ke Jakarta.
Saat di Jakarta persoalan lain pun datang, pelatih Apriyani pindah ke Konawe dan ia memutuskan untuk pindah ke Konawe.
Apri tinggal di keluarga sang pelatih sambil tetap melanjutkan sekolah. Setelah pindah, banyak prestasi yang diraih Apriyani ditingkat kabupaten.
Hingga akhirnya, Apriyani diminta oleh Pengcab PBSI Konawe untuk dibawa ke Jakarta.
Dalam PB. Pelita itu, Apriyani ditantang dalam waktu tiga bulan untuk memperlihatkan kemampuannya.
Apriyani di bawah binbingan pelatih yang mumpuni serta sparring lebih banyak sehingga membuatnya giat berlatih.
Kesempatan pertama Apriyani Rahayu adalah bermain di nomor tunggal putri diajang Sirnas Djarum 2012 di Banjarmasin.
Saat itu Apriyani langsung kandas di babak pertama, sehingga Apri mendapat arahan dari pelatihnya Toto Sunarto agar beralih ke nomor ganda.
Sang pelatih melihat bakat Apriyani lebih cocok di ganda, akhirnya ia pindah ke nomor ganda campuran dan ganda putri.
Prestasi Apriyani Rahayu makin bersinar setalah berpasangan dengan Jauza Fadhillah Sugiarto, anak bungsu dari Icuk Sugiarto.
Berbagai prestasi nasional dan internasional untuk usia taruna banyak ditorehkan oleh Apriyani dan Jauza.
Akhirnya ia berkesempatan mewakili Indonesia di ajang Kejuaran Dunia Junior 2014 di Alor Setar, Malaysia.
Namun, saat itu ia tidak dipasangkan dengan Jauza, melainkan Rosyita Eka Putri Sari.
Hasilnya di luar dugaan, Apriyani Rahayu/Rosyita Eka berhasil menapak hingga ke babak final sebelum kalah dari pasangan Tiongkok, Chen Qingchen/Jia Yifan.
Menjadi runner-up bersama Rosyita mengantarkannya ke Pelatnas PBSI Cipayung.
Di tahun 2015, Apriyani Rahayu kembali mendapat kepercayaan tampil di Kejuaraan Dunia Junior di Lima, Peru.
Kala itu dirinya bermain di ganda campuran berpasangan dengan Fahriza Abimanyu.
Namun, saat hendak bertanding di semifinal melawan He Jiting/Du Yue (Tiongkok), perempuan 23 tahun itu mendapat kabar bahwa sang ibu meninggal dunia di kampung halaman.
Ia pun sempat down dan akhirnya kalah serta harus puas dengan medali perunggu.
Di tahun 2016, dirinya kembali mendapat perunggu di Kejuaraan Dunia Junior berpasangan dengan Rinov Rivaldi setelah kalah dari Kim Won Ho/Lee Yu-Rim (Korea Selatan).
Pada 2017, Apriyani yang hanya bermodalkan sebuah raket dan mengantongi uang Rp 200 ribu mendatangi pelatih Eng Hian untuk berlatih di Pelatihan Nasional Cipayung, Jakarta.
Sejak saat itulah, atlet badminton ternama itu mulai bermain di level senior dan diduetkan dengan Greysia Polii.
Di tahun yang sama, Apriyani Rahayu kemudian memutuskan untuk fokus bermain di level senior dan dipasangkan dengan Greysia Polii menggantikan Nitya Maheswari yang cedera.
Penampilan perdana mereka adalah di kejuaran beregu Sudirman Cup 2017.
Gelar pertama Apriyani Rahayu/Greysia Polii adalah BWF Grand Prix Gold di Thailand Open 2017 disusul gelar BWF Super Series pertamanya di Prancis Terbuka Super Series 2017.
Setelah itu, pasangan ganda putri ini kemudian menjadi runner up di Hongkong Open 2017 setelah kalah dari Chen Qingchen/Jia Yifan.
Sementara dalam profil Apriyani Rahayu, prestasi terbaik yang pernah dicapainya adalah peraih medali perunggu di Asian Games 2018 dan BWF WORLD CHAMPIONSHIPS 2018 agustus silam bersama Greysia Polii. ( Tribunlampung.co.id / Virginia Swastika )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/biodata-apriyani-rahayu-atlet-bulutangkis-raih-medali-emas-di-olimpiade-tokyo-2020.jpg)