Lampung Selatan

Melongok Kampung Khilafatul Muslimin di Lampung Selatan, Miliki Ponpes Setara SD hingga Kuliah

Melongok Kampung Khilafatul Muslimin di Dusun Karang Anom, Desa Karang Sari, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan.

Dokumentasi
Melongok Kampung Khilafatul Muslimin di Dusun Karang Anom, Desa Karang Sari, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. 

Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Melongok Kampung Khilafatul Muslimin di Dusun Karang Anom, Desa Karang Sari, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan.

Kelompok Khilafatul Muslimin sendiri diketua oleh Abdul Qodir Baraja.

Ia ditangkap oleh kepolisian pada Selasa (7/6/2022) kemarin, atas dugaan paham radikalisasi dan makar.

Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat suatu daerah yang dinamakan Kampung Khilafah oleh kelompok organisasi keagamaan tersebut.

Bahkan kampung tersebut terdaftar dalam aplikasi peta online Google Map dengan status tutup permanen.

Selain memiliki Kampung Khilafah, kelompok Khilafatul Muslimin juga ternyata memiliki suatu pondok pesantren dengan nama Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah (PPUI) Khilafatul Muslimin Margodadi yang berada di Desa Margo Lestari Kecamatan Jati Agung.

Baca juga: BNPT Ungkap Pola-pola Penyebaran Ideologi Khilafah oleh Khilafatul Muslimin

Baca juga: Biaya Pilkada 2024 Lampung Selatan Rp 62 Miliar Lebih

Berdasarkan data yang dihimpun, pondok pesantren itu masih beraktivitas secara normal paska ditangkapnya ketua umum Khilafatul Muslimin Abdul Qodir Hasan Baroja.

Bahkan kegiatan keagamaan dan belajar mengajar pun masih berjalan normal di pondok pesantren yang berada di wilayah Jati Agung itu.

Pesantren tersebut terbagi menjadi 2 bagian, bagian pertama tempat para santri setingkat SMP dan SMA.

Pada bagian sebelahnya pendidikan setingkat perkuliahan.

Salah seorang pengajar yang juga penanggungjawab pendidikan di PPUI, Imron mengatakan, pesantren itu berbasis akselerasi Kekhalifahan dengan pendidikan setara SD selama 3 tahun, setara SMP 2 tahun setara SMA 2 tahun dan setara Universitas 2 tahun.

"Kita kan pesantren tradisional, waktunya kita singkat aja," ujar Imron, Kamis (9/6/2022).

"Umumnya SD itu 6 tahun, kita yang setingkat SD itu 3 tahun. Kemudian setelahnya 2 tahun. Yang di depan itu setingkat kuliah. Sering disebutnya kampus PPUI," katanya.

"Jadi mereka lulus itu saat mereka Akil Baligh sudah mimpi basah gitu. Nah itu mereka sudah lulus enggak sekolah lagi, tapi belajarnya tetap. Namanya kehidupan ini kan kita belajar semua ya," lanjutnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Lampung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved