Berita Lampung

Pemancing Hilang Terseret Ombak Pantai Sebalang Lampung Selatan

Satu dari dua orang yang terseret ombak di Pantai Sebalang, Lampung Selatan itu hilang, seorang ditemukan dalam keadaan pingsan.

Dok SAR Bakauheni
Ilustrasi Tim SAR Bakauheni masih mencari nelayan hilang, Minggu (5/6/2022) lalu. Kali ini pemancing hilang terseret ombak juga dalam pencarian di Pantai Sebalang, Lampung Selatan, Sabtu (16/7/2022). 

Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Dua pemancing terseret ombak di Pantai Sebalang, Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Satu dari dua orang yang terseret ombak di Pantai Sebalang, Lampung Selatan itu hilang, seorang ditemukan dalam keadaan pingsan.

Sampai saat ini, seorang yang hilang terseret ombak di Pantai Sebalang, Lampung Selatan masih dalam pencarian.

Yaitu, Safarudin (40) warga Desa Tanjung Ratu Katibung Lampung Selatan diduga hilang terseret ombak di Pantai Sebalang Lampung Selatan.

Satu lagi, Merdian Eka Saputra (35) selamat meskipun ditemukan dalam keadaan pingsan.

Baca juga: Pihak Steffanus Tak Terima Dituding Menipu, Suami Jessica Iskandar: Kami Tunggu!

Baca juga: Polres Lampung Selatan Amankan Pelaku Curat dan Barang Bukti 2 Sepeda Motor

Babinsa Desa Tarahan Katibung Lampung Selatan Koramil 10 Katibung Kodim 0421 Lampung Selatan Serda Suwandi mengungkapkan, sebelumnya ada empat orang sekawan memancing.

Serta menombak ikan di Pantai Sebalang, Lampung Selatan atau dekat pelabuhan PLTU sekitar pukul 18.00 WIB.

Selain Safrudin dan Merdian Eka Saputra, ada juga Rahmad Hidayat (40) dan Julian Arseno (40).

"Keempat orang ini merupakan warga Tanjung Ratu Katibung Lampung Selatan," ujar Serda Suwandi saat dihubungi Tribun Lampung, Jumat (15/7/2022) melalui chat WhatsApp.

Namun dari empat pemancing itu ada satu warga atas nama Safarudin (40) belum diketahui keberadaannya hingga sekarang.

Serda Suwandi menceritakan,  pemancing Merdian Eka Saputra (35) sempat terseret ombak tapi bisa terselamatkan pada pukul 19.30 WIB.

"Dari 4 orang yang mancing hanya ada 1 orang bernama pak Safarudin sampai saat ini belum ditemukan dan tim sedang mencarinya," kata Serda Suwandi.

Baca juga: Kronologi Pembunuhan di Lampung Tengah, Korban dan Pelaku Janjian Pergi ke Pantai Sebalang

Baca juga: Lampung Selatan Sabet Juara 3 Penurunan Stunting Terbaik

Berdasarkan cerita dari dari orang yang tidak terserat ombak yakni Rahmad Hidayat (40) dan Julian Arseno (40).

Bahwa kedua rekannya, Safrudin dan Merdian Eka Saputra terseret ombak dikarenakan mereka mancing cukup jauh dari bibir pantai.

Direncanakan mereka itu hanya mancing dan menombak ikan saja.

Jadi mereka berempat ini berjarak dari satu dengan yang lainnya kurang lebih 100 meter.

Ironisnya Safrudin dan Merdian Eka Saputra terseret ombak.

Merdian Eka Saputra ditemukan sudah dalam keadaan pingsan di tepi pantai. Namun rekannya, Safarudin belemu ketemu.

Atas informasi peristiwa tersebut, Serda Suwandi langsung ke TKP (tempat kejadian perkara).

Lalu menelepon ketua LPM Desa Tarahan Amrin serta Basarnas dari Bandar Lampung.

Tim Basarnas  ikut hadir dengan sigap melakukan pencarian orang yang hilang.

Tim kesulitan menemukan satu warga yang masih terseret ombak tersebut.

Saat ini tim sedang bekerja untuk mencari keberadaan Safarudin. 

"Berharap segera ditemukan pak Safarudin dan saat ini kasihan orangnya," ujarnya.

24 Orang Terseret Ombak di Jawa Timur

Berikut, detik-detik 24 orang terseret ombak saat wisata ritual di Pantai Payangan Kecamatan Ambulu, Jember, Jawa Timur.

Diketahui, kegiatan tersebut digelar pada Minggu (13/2/2022) dini hari.

Sebanyak 24 warga Jember (sebelumnya diberitakan 23 orang) terseret ombak Pantai Payangan di Kecamatan Ambulu pada Minggu (13/2/2022).

Mereka adalah rombongan padepokan Jamaah Tunggal Jati Nusantara.

Mereka menggelar ritual khusus di kawasan pantai.

Peristiwa tersebut berawal saat 24 orang berangkat dari Desa Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi untuk menggelar ritual di area Pantai Payangan dan Watu Ulo.

Warga yang ikut ritual berasal dari berbagai kecamatan di Jember, dan tergabung dalam padepokan Jamaah Tunggal Jati Nusantara.

Mereka tiba di kawasan pantai pada Sabtu (12/2/2022) pukul 23.30 WIB.

Rombongan kemudian mempersiapkan diri untuk melakukan ritual bersama di pinggir pantai.

Menurut Kapolsek Ambulu AKP Makruf, petugas pantai sudah memperingatkan warga agar tidak melakukan kegiatan di sekitar pantai karena ombak sedang tinggi.

Imbauan tak diindahkan, Minggu tengah malam sekira pukul 00.25 WIB, 24 orang yang mengikuti ritual tersebut dihantam ombak.

Akhirnya, warga meminta bantuan pihak kepolisian untuk menyelamatkan mereka.

Petugas kepolisian juga berkoordinasi dengan tim SAR hingga TNI untuk membantu korban.

Data sementara menyebutkan, ada 15 orang yang tersapu, namun tiga di antaranya selamat.

Kemudian 10 orang sudah ditemukan dalam kondisi meninggal. Sedangkan satu orang masih dalam proses pencarian.

Pengakuan korban selamat

Bayu, seorang korban selamat dari kecelakaan laut di Pantai Payangan yang menewaskan 10 warga Jember, Jawa Timur, menceritakan ritual yang dilakukan oleh rombongan berjumlah 24 orang tersebut.

Bayu menjelaskan, mereka datang untuk melakukan ritual berupa meditasi di tepi Pantai Payangan, Jember.

"Meditasi," kata Bayu, Minggu (13/2/2022), melansir dari Kompas TV dalam artikel 'Korban Selamat Ungkap Ritual di Pantai Payangan Jember, 10 Meninggal Terseret Ombak'.

Menurutnya, mereka melakukan meditasi di pinggir laut.

Namun, saat itu tiba-tiba ombak besar datang dan menyeret rekannya.

"Ada ombak dua kali datang. Ombak pertama ini saya berdiri terus lari saya menghindari ombak kedua."

Ombak tersebut kemudian menyeret belasan orang dan 10 orang di antaranya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

Kesepuluh jenazah tersebut sudah tiba di Puskesmas Ambulu, Jember, untuk proses identifikasi dan pendataan.

"Di Puskesmas Ambulu sudah ada 10 jenazah yang menunggu proses identifikasi dari kepolisian," demikian dilaporkan jurnalis Kompas TV Jember, Hernawan, melaporkan dari Puskesmas Ambulu.

Berdasarkan pantauan dan informasi yang diterima, sejumlah keluarga sudah datang menjemput namun belum bisa dibawa pulang karena masih proses identifikasi berikut pendataan.

"Dari informasi yang kami terima, para korban berusia dewasa, belum terkonfirmasi di bawah umur."

"Berdasarkan penjelasan seorang korban selamat, Bayu, waktu itu memang sedang melakukan ritual sebanyak lebih dari 20 orang, tiba-tiba ada ombak dua kali menerjang," imbuhnya.

Masih berdasarkan pantauannya, petugas puskesmas tidak mendirikan posko, tetapi ada meja pelayanan yang dibantu oleh petugas kepolisian dan TNI.

Mengenai identitas dan alamat para korban, Hermawan mengatakan dirinya belum mendapatkan identitas secara pasti.

"Yang pasti, kata dia, dari informasi yang kami terima korban berasal dari sejumlah daerah di Jember.

"Dari pantauan kami, dalam mengevakuasi jenazah menggunakan sejumlah mobil ambulans, yang jumlahnya kami tidak tahu pasti karena memang waktu itu ambulans silih berganti datang. Ada yang datang dan menjemput kembali.”

Selain korban meninggal, sebanyak tiga korban selamat juga dirawat di puskesmas Ambulu. Semuanya dilakukan pemantauan medis.

"Sebagian merasakan sesak diduga kerena tersedak atau menelan air laut."

Sering dijadikan tempat ritual

Menurut jurnalis Kompas TV Jember, Imron Fahim, ritual tersebut memang seringkali digelar oleh kebanyakan komunitas di sekitar Jember dan daerah lainnya.

Pantai Payangan yang dikenal sebagai pantai selatan ini sering digunakan sebagai tempat ritual.

"Namun sejak beberapa hari gelombang cukup tinggi. Sebelumnya BPBD sudah mengimbau pada warga maupun wisatawan untuk tidak berenang di tepi pantai," ujar Imron.

Tapi keberadaan ke 24 orang tersebut tidak diketahui oleh petugas, karena mereka masuk tidak memberitahukan pada petugas yang ada di Pantai Payangan.

"Mereka datang langsung melakukan ritual. Saat itu ombak cukup tinggi, ada 15 orang yang tersapu namun tiga di antaranya selamat."

"Kemudian 10 orang sudah ditemukan dalam kondisi meninggal."

"Sedangkan satu orang masih dalam proses pencarian," tuturnya.

Pencarian dilakukan dengan menyisir di sepanjang pantai karena di sepanjang pantai Payangan ini ada juga pantai lain.

"Korban ini diketahui masih keluarga atau ada kekerabatan, kemungkinan pemakamannya akan dilakukan di satu lokasi di daerah asal," kata Imron.

(Tribunnews.com/Tribunlampumg.co.id Bayu Saputra).

Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved