Wawancara Eksklusif

Wawancara Eksklusif Ketua LPW Lampung MD Rizani, Soal Kasus Polisi Tembak Polisi

Wawancara eksklusif dengan Ketua LPW Lampung MD Rizani terkait kasus polisi tembak polisi yang belakangan jadi sorotan publik.

tribunlampung.co.id/kiki adipratama
Ketua Lampung Police Watch (LPW) Provinsi Lampung MD Rizani saat diwawancarai eksklusif terkait persoalan polisi tembak polisi, Kamis (8/9/2022). 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Kasus polisi tembak polisi menjadi sorotan publik belakangan ini. Berawal dari kasus penembakan Brigadir J yang diotaki Mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo di Jakarta.

Terbaru perkara polisi tembak polisi terjadi di Lampung, yang dilakukan Kanit Provos Polsek Way Pengubuan Polres Lampung Tengah Aipda Rudi Suryanto.

Insiden polisi tembak polisi di Lampung Tengah itu menewaskan rekan kerja pelaku, yaitu Aipda A Karnain.

Mengapa kasus seperti ini terjadi, dan apa yang perlu dikerjakan kepolisiai ?

Tribun Lampung mewawancarai Ketua Lampung Police Watch (LPW) Provinsi Lampung MD Rizani. Berikut petikannya :

Baca juga: Pengendara di Bandar Lampung Ingin Ada Plang Pemberitahuan Jalan Rusak

Baca juga: Setebal 200 Halaman, Berkas Perkara Polisi Tembak Polisi Diterima Kejari Lampung Tengah

Bisa dijelaskan lembaga LPW Lampung ini fokus kerjanya seperti apa ?

Jawab : Ya kita fokus memantau kegiatan-kegiatan kepolisian seperti kita datangi, kita berikan masukan, tapi belakangan kita dianggap seperti musuh. Kenapa? Karena banyak dari kepolisian yang menganggap bahwa LPW ini hanya bisanya ngomong aja.

Kapan lahirnya lembaga LPW ? 

Jawab : LPW sendiri secara nasional, lahirnya  setelah reformasi pada tahun 1999, di seluruh Indonesia.
Akan tetapi untuk LPW Lampung ini kita lebih fokus bergerak pada sisi teknis kinerjanya. Misal,  prosedur penerimaan bintara seperti apa, penangkapan seperti apa, kepemilikan senjata seperti ap. Ya artinya seluruh kegiatan keseharian polisi lah yang kami lihat.

Bagaimana tanggapan anda dengan adanya peristiwa polisi tembak polisi di Lamteng ? 

Jawab : Ya sebetulnya ini masalah klasik. Dan memang inilah yang selalu kita takutkan. Artinya terjadi penggunaan senjata tidak sesuai prosedur. Ketika peluru itu keluar dari senjata itu, dia berjalan lurus dia tidak peduli siapa yang ada dihadapannya pasti cidera bahkan mati. Masalah ini adalah masalah personel yang memiliki gangguan kejiwaan, emosi yang tidak stabil. Ada satu penyakit triger happy, orang kalo pegang senjata itu ada satu kegembiraan kalo dia bisa meledakkannya.

Fenomena polisi tembak polisi ini baru-baru ini memang menjadi perhatian, setelah adanya kasus Brigadir J, apakah menurut anda peristiwa di Lamteng ini secara psikologi berkaitan ? 

Baca juga: Isak Tangis Iringi Pemberangkatan Jenazah Polisi Tewas Ditembak Kanit Provos di Lampung

Baca juga: Pelaku Polisi Tembak Polisi di Lampung Tengah, Kini Terancam Penjara Seumur Hidup

Jawab : Sebetulnya ini masalah yang sudah lama, bukan hanya kasus Sambo saja. Artinya memang kepolisian harus melihat dan betul-betul harus mengawasi penggunaan senjatanya. 

Dengan adanya dua kasus polisi tembakan polisi ini, menurut anda apa yang harus dilakukan oleh Polri?

Halaman
12
Sumber: Tribun Lampung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved