Berita Terkini Nasional

Tukang Jamu Ungkap Keanehan Sekeluarga Meninggal di Kalideres, 'Diam Aja Biasanya Negor'

Tukang jamu langganan berinisial R menyampaikan kesaksiannya saat mereka bertemu terakhir kalinya.

Tribunnews.com/ Fahmi Ramadhan
Tim Labfor Bareskrim Polri dalami sejak kapan satu keluarga meninggal di Kalideres, Jakarta Barat, Selasa (15/11/2022). 

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Tukang jamu langganan satu keluarga meninggal di Kalideres mengungkap keanehan perilaku Rudyanto Gunawan (68) dan anaknya Dian (42) sebelum ditemukan tak bernyawa di dalam rumahnya.  

Tukang jamu langganan berinisial R menyampaikan kesaksiannya saat ia bertemu terakhir kalinya sebelum insiden satu keluarga meninggal di Kalideres menggegerkan warga.

Sekira dua bulan silam, R mengaku bertemu dengan Rudyanto Gunawan (68) dan anaknya Dian (42), dua dari empat orang satu keluarga meninggal dunia di Kalideres.

"Dian jalan dari sini (arah pasar). Dia jalan kaki sama bapaknya bawa kresek item jalan," kata R, Selasa (15/11/2022).

Namun, R merasa janggal karena bapak dan anak itu hanya diam. Padahal, menurut R, Dian dikenal sebagai pribadi yang ramah dan suka menyapa.

Baca juga: Satu Keluarga Meninggal di Kalideres Butuh Uang Rp 50 Juta Pinjam ke Tukang Jamu

Baca juga: Punya Harta Miliaran, 4 Orang Sekeluarga Meninggal di Kalideres Bukan karena Kelaparan

"Terus tukang bubur nanya ke saya, 'itu Dian kan Mba?' Iya kata saya. Kok diem aja ya biasanya kan dia negor," ucap R sambil menirukan percakapannya dengan tukang bubur kala itu.

Dian juga tampak berbeda beberapa waktu belakangan. Perempuan yang tadinya bertubuh gemuk itu, kata R, menjadi lebih kurus.

R juga mengaku baru pertama kali itu melihat keluarga Dian pergi dengan berjalan kaki.

"Biasanya mereka keluar itu enggak pernah jalan. Mereka selalu bawa mobil atau enggak motor. Dan baru kali itu lihat dia jalan, Dian sama Bapaknya," kata R.

R mengungkapkan, Dian dan keluarganya sudah berlangganan jamunya sejak lama.

Menurut R, mereka terkadang membeli jamu setiap dua pekan atau satu bulan sekali.

Namun semenjak pandemi Covid-19, keluarga ini tak pernah lagi memesan jamu darinya. R sendiri tak mengetahui alasannya.

"Pokoknya sebelum pandemi virus corona masih sering mesen jamu. Pas pandemi itu enggak pernah mesen lagi," tutur R.

Belakangan, menurut R, keluarga itu lebih banyak berada di dalam rumah.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved