Berita Lampung

Faktor Ekonomi dan Stres Bisa Picu Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

"Pelaku kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak mulai dari usia delapan belas tahun," kata Helida dalam bincang politik Tribun Lampung.

Penulis: Jelita Dini Kinanti | Editor: muhammadazhim
tribunlampung/jelita dini
Wakil Ketua DPD 1 Partai Golkar Helida Heliyanti jadi pembicara dalam Bincang Politik Tribun Lampung, Rabu (23/11/2022). 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih cukup tinggi sampai sekarang.
  
Wakil Ketua DPD I Partai Golkar Helida Heliyanti mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak lebih banyak terjadi di rumah. 

"Pelaku kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak mulai dari usia delapan belas tahun," kata Helida dalam bincang politik Tribun Lampung, Rabu (23/11/2022). 

Menurutnya, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ada kekerasan fisik, psikologi, dan seksual.

Menurut Helida, dari semua kasus kekerasan perempuan dan anak itu yang paling parah adalah kasus kekerasan seksual.

Sebab, kasus kekerasan seksual merusak segalanya, termasuk merusak masa depan korban. 

Penyebab kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak beragam, misalnya faktor ekonomi dan stres.

Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak akan berdampak tidak baik terhadap korban.

"Salah satu dampak itu adalah perempuan kesulitan mendidik anak-anaknya di rumah agar memiliki perilaku dan masa depan yang baik," ujar Helida Heliyanti.

Kalau anak-anak tidak dididik dengan baik, bagaimana perilaku dan masa depan anak itu?

Untuk itulah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak boleh terus-terusan diabaikan begitu saja.

Selama ini masih banyak kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih diabaikan, lalu menghilang.

"Pelaku kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak itu tidak merasakan efek jera," tegasnya.

Padahal seharusnya pelaku kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa mendapatkan efek jera, misalnya dengan memenjarakan pelaku.

"Pernah ada seorang publi figur yang memenjarakan suaminya karena melakukan kekerasan, nah ini bisa menjadi efek jera bagi suaminya, walaupun akhirnya suaminya dibebaskan lagi," ucap Helida.

Selain memberikan efek jera, langkah atau peluang pelaku untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak harus dipersempit. 

Caranya dengan mensosialisasikan undang-undang perlindungan perempuan dan anak, serta perda penghapusan tindak kekerasan pada perempuan dan anak yang dikeluarkan oleh Provinsi Lampung.

(Tribunlampung.co.id/Jelita Kinanti)

 

Sumber: Tribun Lampung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved