Berita Terkini Nasional

Psikolog Duga Kematian Sekeluarga di Kalideres Akibat Kesehatan Mental Terganggu

Polisi mendapati fakta terkait dengan ritual tertentu di rumah tempat ditemukannya jasad sekeluarga di Kalideres, Jakarta Barat.

Tribunnews.com/Istimewa
Kondisi rumah yang empat orang penghuninya ditemukan sudah jadi jasad, Kamis (10/11/2022) malam di Kalideres, Jakarta Barat. Diduga karena kesehatan mental terganggu nekat akhiri hidup akibat terdorong ritual tertentu. 

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Fakta baru tekait penyelidikan satu keluarga meninggal di Kalideres, Jakarta Barat beberapa waktu lalu.

Polisi mendapati fakta terkait dengan ritual tertentu di rumah tempat ditemukannya jasad sekeluarga di Kalideres, Jakarta Barat.

Dugaan itu muncul karena ditemukannya barang-barang berupa  buku dan kemenyan di dalam rumah yang ada di Kalideres, Jakarta Barat

Bahkan Pakar Psikologi Forensik menduga empat orang yang  ditemukan jenazahnya itu melakukan tindakan akhiri hidup yang termotivasi nilai spiritual tertentu.

Terkait satu keluarga tewas di Kalideres, Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menduga tidak tertutup kemungkinan mereka mengakhiri hidup yang termotivasi oleh nilai spritual tertentu.

Hal ini menurut Reza bisa juga terjadi karena terganggunya kesehatan mental mereka akibat pandemi Covid-19.

Baca juga: Motif Bapak, Ibu dan Kakak Kandung Meninggal Diracun Anak Bungsu di Magelang

Baca juga: Alasan Petugas Bandara Tertawakan Elly Sugigi yang Berpenampilan Beda

"Beberapa waktu lalu saya berspekulasi, tidak tertutup kemungkinan penyebab kematian keluarga tersebut adalah bunuh diri yang termotivasi oleh nilai spiritualitas tertentu. Mereka secara terencana ingin rest in peace. Meninggal dengan cara damai. Damai menurut mereka, tentunya," kata Reza kepada Wartakotalive.com, melalui pesan tertulis, Rabu (30/11/2022).

Pada sisi lain, kata Reza, spekulasi kedua, karena kematian tidak berlangsung serentak, dan anggota keluarga termuda meninggal dunia paling akhir, tidak tertutup kemungkinan bahwa kematian (bunuh diri) dilakukan berdasarkan kesepakatan bahwa anggota termuda tersebut harus menutup akses makanan bagi tiga anggota keluarga lainnya.

"Dengan situasi sedemikian rupa, kejadian di Kalideres dapat dipahami sebagai peristiwa bunuh diri yang disertai peristiwa pidana sebagaimana pasal 345 KUHP. Namun karena Indonesia tidak mengenal posthumous trial (persidangan pelaku kejahatan yang sudah meninggal-Red), maka Ditreskrimum Polda Metro Jaya (PMJ) dapat menyatakan kasus ditutup," katanya.

Pada sisi lain, Reza, mengajak kita mengingat kembali perkataan badan kesehatan dunia yakni WHO.

"WHO sudah bilang sejak awal pandemi Covid 19 bahwa kita bertarung dengan waktu untuk mendapatkan penawar virusnya. Tapi problem kesehatan mental akibat pandemi justru tidak mendapat perhatian setara." ujar Reza.

"Jadi, bukan hanya virus yang mewabah. Tekanan batin dan serbaneka perilaku malasuai (tidak sesuai atau tidak normal-Red) juga sepertinya menjadi pandemi. Termasuk pemunculan sekte-sekte spiritualitas baru," tambah Reza.

Pemunculan sekte di masa pandemi lalu, menurut Reza memang masif di sejumlah wilayah.

"Di Perancis saja ada lima ratusan sekte baru. Dan Pemerintah sampai mengalokasikan dana hingga 1 juta Euro guna meningkatkan pengawasan terhadap sekte-sekte yang dikhawatirkan membahayakan masyarakat tersebut," katanya.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved