Mengenal Sejarah Kemaritiman Indonesia di Museum Maritim
Adapun tujuan Pelindo Regional 2 mengajak para jurnalis ke Museum Maritim untuk mengenal sejarah kemaritiman yang ada di Indonesia.
Penulis: Riyo Pratama | Editor: taryono
Tribunlampung.co.id,Tanjung Priok - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 atau di kenal dengan Pelindo Regional 2 ajak 36 perwakilan rekan media berkunjung ke Museum Maritim yang berada di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Indonesia.
Adapun tujuan Pelindo Regional 2 mengajak para jurnalis ke Museum Maritim untuk mengenal sejarah kemaritiman yang ada di Indonesia.
Pemandu, Museum Maritim yang dikelola PT Pelindo II ini menjelaskan mengenai mengenai sejarah maritim Indonesia dan perdagangan laut setelah revolusi industri mulai dari tahun 1850 pascarevolusi industri hingga tahun 2018.
"Jadi Museum Maritim ini memiliki sejarah panjang tentang pelayaran yang ada di Indonesia, sekaligus sejarah perjalanan Pelindo, yang dikenal dengan KPM di jaman Belanda," kata Yogi pemandu Museum Maritim dalam Media Gathering Pelindo yang digelar sejak 31 Agustus hingga 2 September 2023.
Yogi menjelaskan pembangunan gedung Museum Maritim dibangun sejak tahun 1920.
"Pada awal di bangun gedung ini menggunakan kayu dan terus melakukan renovasi hingga sekarang," kata Yogi.
Kini bangunan Museum Maritim dipenuhi Koleksi miniatur crane dan bergandengan dengan kantor pengelola Pelabuhan dan pada 2018 Museum Maritim diresmikan.
Museum tersebut dipenuhi dengan sejarah modernisasi oleh pemerintah Hindia Belanda.
Di dalamnya terdapat Replika relief Candi Borobudur yang berkaitan dengan sejarah maritim, kemudian gambar Pelabuhan Tradisional Sunda Kelapa.
Di sampingnya terpampang peta persebaran nenek moyang Indonesia.
Yogi mengatakan Peta tersebut mengambarkan berbagai sejarah yang berkaitan dengan laut.
"Di antaranya dari teori Austronesia. Awalnya, orang-orang dari Taiwan melakukan perjalanan laut pada tahun 5000 sebelum Masehi. Mereka menyebar, masuk wilayah Sumatera tahun 4000 SM," ujarnya
"Ada yang ke wilayah Madagaskar pada 2000 SM, juga ke wilayah timur 1600 SM, hingga wilayah New Zealand 1000 SM," sambung dia.
Menurutnya, dari perjalanan laut, nenek moyang bangsa Indonesia menyebar dan bermukim di nusantara. Ini tergambar dari berbagai minidiorama pelayaran orang-orang dulu.
Selain berlayar, mereka juga melakukan perdagangan komoditas.
Kemudian terdapat juga minidiorama masa Kerajaan Sriwijaya. Yang di dalamnya terdapat keterangan tentang komoditas perdagangan, seperti minyak kamper, bulu burung merak, gading gajah, cula badak, kain blacu, patung perunggu, dan keramik.
Berikutnya ada mini diorama Kerajaan Mataram Kuno serta Kerajaan Majapahit.
Nama terakhir bahkan menjelma menjadi kerajaan maritim nusantara dengan armada laut yang kuat, meskipun pusat kerajaannya berada di pedalaman.
Bahkan, pada minidiorama tampak simbol Kerajaan Majapahit berupa lambang delapan penjuru mata angin yang merupakan petunjuk di dunia pelayaran.
Mini diorama berlanjut hingga setelah masa Kerajaan Majapahit berakhir.
Lahirlah kerajaan seperti Samudra Pasai di Sumatera dan Demak di Jawa yang juga mengandalkan jalur laut. Pedagang-pedagang muslim menyebar.
Berikutnya berkembang pelabuhan-pelabuhan seperti Pelabuhan Indragiri dan Kampar di Riau, Jambi, Palembang, Sunda Kelapa, Cirebon, Tuban, Gresik, hingga Surabaya.
Video tentang sekilas sejarah pelabuhan seperti di Cirebon dan Surabaya pun turut memanjakan rombongan di Museum Maritim.
Masa Belanda menjajah juga tergambar pada minidiorama bernama Ruang Gudang VOC.
Di dalamnya ada beberapa maket tentang aktivitas pelabuhan dan pelayaran.
Berlanjut ke masa perubahan VOC menjadi Pemerintah Hindia Belanda sampai munculnya Pelabuhan Ambon pada 1905.
Selain itu di Museum Maritim disediakan rempah-rempah yang telah dikeringkan, seperti Pala, Cengkeh, Kayu manis, lada dan rempah lain yng diburu Belanda dikala itu.
Pemandu Museum Maritim mengatakan, bagi masyarakat yang ingin berkunjung terlebih dahulu melakukan pemberitahuan atau jadwal khusus sebelumnya.
"Ini terbuka untuk umum tapi pengunjung harus terlebih dahulu membuat jadwal kesepakatan terlebih dahulu," pungkasnya.
Tingkatkan Sinergitas dan Kolaborasi, Pelindo Regional 2 Selenggarakan Media Gathering.
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 atau di kenal dengan Pelindo Regional 2 menggelar acara Media Gathering bersama 36 perwakilan rekan media dari 12 Cabang Regional 2 bertema “Meningkatkan Sinergitas dan Kolaborasi Untuk Akselerasi Kinerja Pelindo Regional 2”.
Kedatangan rekan media dari 12 Cabang disambut hangat oleh Regional Division Head Komersial, Budi Prasetio yang mewakili manajemen Pelindo Regional 2 di Museum Maritime Tanjung Priok.
Division Head Komersial, Budi Prasetio pada sambutannya menyampaikan acara diadakan sebagai bentuk sinergitas dan kolaborasi Pelindo bersama rekan media untuk mengenalkan Pelindo kepada masyarakat pasca pengabungan Pelindo yang telah diresmikan secara langsung oleh Presiden Republik Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Budi mengucapkan terima kasih kepada rekan media yang telah banyak berkontribusi positif terhadap pemberitaan Pelindo Regional 2 sehingga Pelindo di kenal oleh masyarakat.
Selain ke Museum Maritim Indonesia jurnalis juga dipersilahkan untuk mengenal sejarah kemaritiman yang ada di Indonesia, site visit ke Control Tower untuk diberikan penjelasan seputar monitoring kegiatan yang ada di cabang-cabang pelabuhan dan melakukan Port Visit ke Dermaga TO3 untuk melihat secara langsung proses kegiatan bongkar muat kapal.
Selesai mengunjungi pelabuhan di Jakarta, para rombongan media di ajak menuju ke PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia (PMLI) Ciawi, Bogor untuk berbincang santai dan sharing session terkait dengan Pelindo Regional 2.
Bertempat di Gedung Simulator Forklip PT PMLI.
Budi memaparkan bahwa Pelindo Regional 2 memiliki 12 Cabang Pelabuhan yang tersebar di Indonesia Bagian Barat, mulai dari Pulau Sumatera yaitu Pelabuhan Teluk Bayur, Pelabuhan Jambi, Pelabuhan Bengkulu, Pelabuhan Palembang, Pelabuhan Panjang, Pelabuhan Pangkal Balam dan Pelabuhan Tanjung Pandan.
"Untuk di Pulau Kalimantan, kita memiliki 1 Pelabuhan yang berada di Provinsi Kalimantan Barat yaitu Pelabuhan Pontianak.
"Pulau Jawa sendiri kita memiliki 4 cabang pelabuhan yaitu Pelabuhan Banten, Pelabuhan Sunda Kelapa, Pelabuhan Cirebon dan Pelabuhan Tanjung Priok yang termasuk kedalam 5 Pelabuhan terbesar di Asia Tenggara," bebernya.
Pada kesempatan itu pula, pasca penggabungan, kata Budi Pelindo memiliki 4 Regional dan 4 Subholding.
Regional dan Subholding memiliki perannya masing-masing, Regional berperan sebagai arsitek strategis dan pemilik konsesi yang bertugas mendorong grup strategi dan mengelola portofolio keseluruhan, mengawasi pelaksanaan bisnis seluruh grup, mengatur komunikasi dengan para pemangku kepentingan di tingkat nasional.
Sedangkan Subholding bertugas menghasilkan pendapatan melalui kegiatan pengoperasian bisnis Pelabuhan, mendorong pelaksanaan operasional dan pelayanan yang lebih baik, dan mengatur kebijakan layanan pelabuhan.
Lebih lanjut, Budi memaparkan struktur organisasi Pelindo Regional 2 yang pimpin oleh Drajat Sulistyo dibantu 6 kepala divisi untuk menjalankan peranan dan fungsinya sebagai Regional Pelindo.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/pemandu-Museum-Maritim-Yogi.jpg)