Orang Vatikan pun Pakai Batu Akik Bungur Tanjung Bintang
Mengasah satu batu butuh satu hari, tetapi dijualnya butuh dua hari.
Penulis: Jelita Dini Kinanti | Editor: Heribertus Sulis
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Batu akik sudah mulai marak di pasarkan di Bandar Lampung sejak tahun 1988. Saat itu, batu akik hanya dijajakan di Jalan Bengkulu. Lalu tahun 1989, para pedagang pindah ke Pasar Tengah. Penjualnya hanya ada empat orang.
Salah satu pengrajin batu akik tertua di Bandar Lampung Ismet mengatakan, saat tahun 80-an batu akik sulit sekali dijual. Mengasah satu batu butuh satu hari, tetapi dijualnya butuh dua hari. Walaupun dijual door to door tetapi tetap saja peminatnya hanya sedikit.
"Lalu tahun 2010 batu akik mulai banyak dicari orang. Batu bacan dan Sungai Dareh muncul dan menjadi tren kala itu di kalangan pencinta batu. Tahun 2012 batu Bungur Tanjung Bintang, batu Bengkulu, dan batu Raja muncul. Ketiga batu tersebut menjadi batu terindah saat itu. Bahkan orang Vatikan sudah pakai Bungur Tanjung Bintang," katanya dalam diskusi di Kantor Tribun Lampung, Senin (27/4/2015)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/diskusi-batu-akik_20150427_112359.jpg)