Gampang-gampang Susah Pakai Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

selama ini semua sudah salah, kalau bukan sekarang, ya kapan lagi contohnya biasa memakai kata gadget padahal yang benar gawai.

Editor: Reny Fitriani

Laporan Reporter Tribun Lampung Andre

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Menghargai, memakai, melestarian bahasa nasional serta bahasa daerah adalah hal paling membanggakan. Hal itu yang dilakukan Lydia Mawar Ningsih (24) dan menjadi salah satu finalis Duta Bahasa Indonesia Provinsi Lampung.

Lydia mengatakan, sebagai generasi muda seharusnya sadar akan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

"Awalnya sedih juga kita warga Indonesia tidak bisa memakai bahasa negara sendiri dengan baik. Sebenarnya gampang-gampang susah menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selama ini semua sudah salah, kalau bukan sekarang, ya kapan lagi, contohnya biasa memakai kata gadget padahal yang benar gawai, atau mic seharusnya pelantang," ungkapnya saat dihubungiTribun, Senin (1/5).

Menjadi Duta Bahasa Indonesia selain mengkapanyekan penggunaan bahasa Indonesia, juga melestarikan bahasa daerah dan kebudayaannya. "Jangan bangga sebagai orang Lampung kalau tidak bisa bahasa Lampung. Ya, tidak harus sefasih orang Lampung asli, paling tidak bisa," ungkapnya.

Ia menambahkan, banyak hal yang bisa menjadi inspirasi diri sendiri untuk selalu kreatif, inspiratif dan inovatif dalam segala aspek. Selain itu bisa bertemu dengn 29 teman Duta Bahasa yang memiliki kemampuan dan pengalaman di bidangnya masing-masing, tidak hanya dalam negeri tapi juga di luar negeri.

Duta Bahasa Provinsi Lampung, merupakan perkumpulan pemuda-pemudi Lampung yang memiliki satu visi dan misi yaitu memajukan Provinsi Lampung dalam Bidang Bahasa (baik bahasa Indonesia, Daerah dan Asing).

"Dalam waktu dekat akan dimulai kampanye tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar dari tingkat SD, SMP, SMA bahkan tingkat universitas. Kami sebagai contoh dan pelopor, jadi harus konsisten juga. Walaupun bahasa Indonesia sebenarnya ada dua ranah, dalam hal resmi dan hal yang tidak resmi. Jadi harus bisa menggunakan sesuai situasi," ungkap mahasiswi Unila jurusan Magister Teknologi Industri Pertanian ini.

Gadis 24 tahun ini mendapat beasiswa (jasso schoolarship) ke Jepang dan pada bulan Septembr 2017 hingga Oktober 2018. Kurang lebih satu tahun dan mendapat jatah 22 sks untuk belajar di Tokyo University of Agliculture and Technology.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved