TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Menurut penelitian terbaru, polusi udara bertanggung jawab atas satu dari tujuh kasus diabetes baru pada 2016.
Umumnya diabetes muncul karena gaya hidup, terutama pola makan dan kurang bergerak.
Namun, peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St Louis, Amerika Serikat (AS) membuktikan, polusi udara juga berperan besar akan munculnya diabetes.
Ahli menegaskan, sekecil apapun tigkat polusi udara, tetap dapat mengembangkan penyakit kronis tersebut.
Diwartakan AFP, Sabtu (30/6/2018), studi tersebut memperkirakan bahwa polusi udara berkontribusi pada 3,2 juta kasus diabetes baru secara global pada 2016, atau sekitar 14 persen dari semua kasus diabetes baru pada tahun itu.
Baca: Google Bisa Prediksi Kematian, Akurat 95 Persen
"Penelitian kami menunjukkan hubungan yang signifikan antara polusi udara dan diabetes secara global," kata Ziyad Al-Ay, penulis senior studi tersebut.
Al-Ay dan timnya menemukan polusi udara dapat mengurangi produksi insulin di dalam tubuh.
Artinya, polusi udara mencegah tubuh untuk mengubah glukosa menjadi energi yang dibutuhkan tubuh.
Dalam laporan yang terbit di Lancet Planetary Health, mereka menemukan ada peningkatan risiko diabetes, meski manusia tinggal di lingkungan dengan tingkat polusi udara yang dianggap aman oleh Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) AS dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
"Ini penting, sebab banyak kelompok industri berpendapat bahwa patokan level (polusi udara) saat ini terlalu ketat, dan mestinya bisa lebih santai. Nyatanya, bukti menunjukkan level saat ini masih belum cukup aman dan perlu diperketat," imbuhnya.
Bukti keterkaitan polusi udara dengan diabetes
Al-Ay dan timnya bekerja sama dengan para ilmuwan dari Pusat Epidemiologi Klinik Veteran dalam memeriksa 1,7 veteran AS, yang tidak memiliki riwayat diabetes.
Rata-rata, para peserta telah dipantau selama 8,5 tahun.
Informasi dari para veteran kemudian dibandingan dengan data kualitas udara untuk memeriksa hubungan antara diabetes dan polusi udara.
Dari sana, mereka menemukan adanya risiko diabetes erat hubungannya dengan polusi udara.
Ahli telah merancang sebuah model untuk mengukur risiko diabetes atas tingkat polusi yang berbeda, dengan menggunakan data dari studi Global Burden of Disease tahunan di seluruh dunia.
Data itu untuk memperkirakan prevalensi diabetes yang disebabkan udara buruk.
Diabetes dialami lebih dari 420 juta orang di seluruh dunia, dan menjadi satu di antara penyakit yang paling cepat berkembang di dunia.
Tipe Baru
Diabetes adalah salah satu penyakit ganas yang sudah mematikan jutaan nyawa.
Selama ini, kita mengenal ada dua tipe diabetes.
Diabetes tipe 1 dikenal sebagai penyakit diabetes autoimun yang tidak dapat disembuhkan.
Diabetes tipe 2 disebut sebagai diabetes yang paling banyak dialami dan masih dapat diatasi, asal pengidap mau mengubah gaya hidup lewat olahraga rutin dan mengonsumsi makanan sehat.
Kini, para ilmuwan sudah merevisi tipe penyakit diabetes.
Mereka menyebut, sebenarnya ada lima tipe diabetes berbeda.
Dalam laporan yang diterbitkan jurnal The Lancet Diabetes & Endocrinology, kelima tipe diabetes tadi memiliki karakteristik dan komplikasi yang berbeda.
Itu berarti setiap pasien diabetes tidak bisa disamakan pengobatannya karena masing-masing memiliki kebutuhan berbeda.
"Diagnosis diabetes yang akurat memungkinkan kita untuk mengobati dengan lebih tepat, agar tidak terjadi komplikasi sebelum berkembang," kata ahli endokrinologi Profesor Leif Groop dari Lund University Diabetes Center (LUDC), Swedia Groop dilansir Express, Kamis (1/3/2018).
Ia mengatakan bahwa pedoman pengobatan yang ada saat ini tidak dapat merespons metabolik dengan baik, dan belum ada alat yang mumpuni untuk memprediksi pasien mana yang harus mendapat perawatan intensif.
Dr Emily Burns, Kepala Riset Komunikasi berkata bahwa tipe 1 dan tipe 2 diabetes adalah penyakit yang sangat berbeda.
Namun, para ahli belum cukup mengetahui subtipe yang ada di dalamnya.
"Menemukan subtipe akan membantu kami dalam menentukan perawatan dan bisa mengurangi risiko komplikasi terkait diabetes di masa depan," kata Burns.
Penyakit diabetes menjadi salah satu penyakit yang meningkat secara signifikan di seluruh dunia.
Namun, klasifikasi diabetes secara medis belum diperbarui selama 20 tahun terakhir, dan masih mengandalkan pengukuran kadar glukosa darah untuk mendiagnosisnya.
Diabetes tipe 1 umumnya didiagnosis pada masa anak-anak dan penyebabnya tubuh sama sekali tidak memproduksi insulin, hormon yang membantu mengatur kadar gula darah.
Diabetes tipe 2 terjadi saat tubuh tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat, setelah terjadi obesitas dan resistensi insulin.
Itu berarti glukosa tetap berada dalam darah.
Sekitar 75-85 persen orang yang didiagnosis dengan diabetes masuk dalam tipe 2.
Sebenarnya diabetes tipe 2 sangat bervariasi, hanya saja tidak dieksplorasi perbedaannya.
Sebab itu, peneliti memantau 14.775 pasien asal Swedia dan Finlandia berusia 18-97 tahun yang baru saja didiagnosis diabetes.
Mereka menganalisis responden meliputi pengukuran resistensi insulin, sekresi insulin, kadar gula darah, usia, dan gejala penyakit.
Para peneliti juga menganalisis genetik dan membandingkan perkembangan penyakit, pengobatan, dan komplikasi diabetes untuk setiap jenisnya.
Hasilnya ditemukan ada lima tipe diabetes berbeda.
Tiga di antaranya parah dan dua ringan.
Pertama mari kita bahas ketiga kelompok diabetes yang parah.
Kelompok parah pertama memiliki resistensi insulin berat yang berisiko jauh lebih tinggi terkena penyakit ginjal.
"Kelompok ini yang paling beruntung dengan revisi klasifikasi tipe diabetes yang baru, sebab merekalah yang penanganannya tidak tepat," kata Groop dilansir Telegraph, Jumat (2/3/2018).
Kelompok parah kedua, kekurangan insulin dengan kontrol metabolik buruk namun tidak memiliki auto antibodi.
Kelompok parah ketiga, insulin pada pasien kurang dan memiliki antibodi autoimun yang terkait dengan diabetes autoimun.
Itu merupakan bentuk diabetes yang sebelumnya disebut sebagai diabetes tipe 1 atau diabetes autoimun laten pada orang dewasa.
Dua kelompok lainnya termasuk lebih ringan.
Satu di antaranya mereka yang terkena diabetes terkait dengan usia lanjut dan kelompok ringan lainnya karena obesitas.
Kelima tipe diabetes itu berbeda secara genetis tanpa mutasi yang terkait dengan semua jenis penyakit.
Sebab itu, kelimanya juga memiliki tahapan penyakit yang berbeda.
Baca: Menantang! Begini Tingkat Kesulitan Arung Jeram di Lampung
"Diperlukan perawatan dini untuk mencegah komplikasi pada pasien yang paling berisiko terkena dampaknya," kata pemimpin penulis Emma Ahlqvist, seorang profesor di Universitas Lund.
Lewat penelitian itu, para peneliti berharap ada studi lebih lanjut yang membahas perbedaan dan perawatan yang lebih tepat untuk setiap penyakit segera ditemukan.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Selain Gaya Hidup, Polusi Udara Terbukti Picu Perkembangan Diabetes".