Harga Singkong Anjlok di Lampung

Dinas Pertanian Ungkap Penyebab Harga Singkong di Lampung Anjlok

Penulis: Hurri Agusto
Editor: Kiki Novilia
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Lampung, Bani Ispriyanto.

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Dinas Pertanian Provinsi Lampung klaim telah melakukan investigasi terkait anjloknya harga singkong di Lampung.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Lampung, Bani Ispriyanto mengatakan, anjloknya harga singkong disebabkan panen yang melimpah.

Selain itu, kondisi saat ini yang memasuki musim penghujan juga dinilai mempengaruhi kualitas singkong yang dihasilkan petani.

"Berdasarkan hasil investigasi, penyebabnya karena panennya melimpah, kemudian juga karena musim hujan," kata Bani saat diwawancara, Rabu (11/12/2024)

Untuk mencari solusi permasalahan ini, Bani menyebut pihaknya bakal mengadakan pertemuan dengan Petani serta pengusaha Singkong di Lampung.

"Kita sudah melakukan investigasi lapangan, Laporannya akan kita sampaikan ke pak gubernur," kata dia.

"Setelah itu kita akan adakan pertemuan dengan para petani dan pengusaha singkong, kita carikan solusi yang ideal sebagai acuan untuk singkong ini," imbuhnya.

Bani mengatakan, jika saat ini Harga Singkong di Lampung berkisar sekitar Rp 1.100 rupiah.

"Harga di lapangan itu bervariasi sekitar Rp 1,100. Tapi yang diterima petani sekitar Rp 800, kalau menurut laporannya seperti itu," imbuhnya.

Sebelumnya, Komisi II DPRD Provinsi Lampung menyoroti persoalan anjloknya harga singkong yang dikeluhkan oleh para petani di Lampung.

Ketua Komisi II DPRD Lampung, Ahmad Basuki   mengatakan, anjloknya harga singkong dapat mengancam kesejahteraan petani dan keberlangsungan sektor pertanian di Lampung.

Terlebih, Lampung merupakan salah satu daerah penghasil singkong terbesar di Indonesia.

Dalam situasi ini, Ketua Komisi II ini menyampaikan bahwa pihaknya akan segera mengambil langkah strategis untuk mengatasi persoalan tersebut. 

"Kami sangat memahami kegelisahan petani. Harga singkong yang anjlok ini merupakan persoalan serius yang harus ditangani segera," ujar Ahmad Basuki melalui pesan singkat Whats App, Rabu (11/12/2024).

"Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan dinas terkait untuk mencari solusi yang konkret dan efektif," imbuhnya.

Menurutnya, salah satu langkah awal yang akan dilakukan adalah mendorong kebijakan stabilisasi harga melalui penetapan harga dasar yang adil bagi petani. 

Selain itu, pihaknya juga mengusulkan penguatan peran koperasi petani untuk memperkuat posisi tawar mereka di pasar.

"Kami juga akan mendorong pengembangan industri hilir berbasis singkong, seperti tepung tapioka, bioetanol, dan produk olahan lainnya. Hal ini penting untuk meningkatkan nilai tambah singkong dan mengurangi ketergantungan pada pasar bahan mentah," tambahnya.

Anggota DPRD dari Fraksi PKB ini juga menekankan pentingnya perbaikan infrastruktur distribusi dan akses pasar. 

"Kami akan mengajak sektor swasta untuk bermitra dengan petani agar hasil panen dapat terserap dengan baik," kata dia

"Selain itu, kami mendukung pemanfaatan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan efisiensi produksi dan daya saing produk singkong Lampung di pasar nasional maupun internasional," tambahnya.

Lebih lanjut, Basuki mengatakan bahwa Lampung sebagai daerah penghasil singkong terbesar di Indonesia diharapkan tidak hanya mampu memproduksi secara maksimal tetapi juga menjaga stabilitas harga yang mendukung keberlangsungan hidup petani.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

Berita Terkini