Penembakan di Kota Metro

Wali Kota Metro Hadiri Pemakaman ASN Tewas Ditembak

Sejak jenazah disemayamkan di rumah duka hingga diberangkatkan ke TPU 16C Metro Barat, para pelayat terus mengalir. 

Tayang:
Tribunlampung.co.id/Dok Warga
SUASANA DUKA - Pemakaman jenazah ASN korban penembakan di TPU 16C Metro Barat, Minggu (24/5/2026). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Suasana duka mendalam menyelimuti tempat pemakaman umum (TPU) 16C Metro Barat, Minggu (24/5/2026). 

Jenazah Dedi Kristian Agung (40), ASN Dinas Perkebunan, Peternakan dan Perikanan Lampung Tengah yang tewas ditembak di kawasan Jembatan Hitam, Ganjar Asri, Metro, diantarkan ke peristirahatan terakhir.

Prosesi pemakaman ini dihadiri warga, rekan kerja, serta jajaran pemerintah daerah.

Mereka datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Sejak jenazah disemayamkan di rumah duka hingga diberangkatkan ke TPU 16C Metro Barat, para pelayat terus mengalir. 

Hadir di antara kerumunan warga, Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso bersama jajaran aparat desa setempat yang datang langsung untuk bertakziah.

Vita Lestari, istri korban, mengatakan, suaminya ditembak di depan matanya dan kedua anak mereka yang masih kecil.

"Anak saya terus terang langsung teriak, Ayah kenapa, Bu? Ayah kenapa?" ungkap Vita, Minggu (24/5/2026).

Vita mengaku dalam kondisi syok luar biasa dan tidak bisa berbuat banyak saat peristiwa terjadi. 

Dia mengatakan, warga sekitar pun sempat tidak berani mendekat untuk menolong karena pelaku terus menodongkan senjata apinya. 

Korban baru bisa dievakuasi ke rumah sakit sekitar 15 menit kemudian oleh petugas Babinsa dan warga setelah pelaku melarikan diri, namun nyawanya tidak tertolong akibat luka tembak yang fatal.

Vita mengatakan, peristiwa berdarah ini dipicu oleh masalah utang piutang. 

Sebelum penembakan terjadi, kata dia, sempat ada cekcok mulut dan perkelahian fisik antara korban dan pelaku. 

Vita menduga aksi ini sudah direncanakan oleh pelaku, mengingat pelaku kerap melontarkan ancaman setiap kali bertemu korban.

Vita selaku istri meminta aparat penegak hukum bertindak transparan dan memberikan hukuman seberat-beratnya tanpa adanya intervensi dari pihak luar.

"Saya cuma minta keadilan seadil-adilnya. Jangan ada backing-an apa pun. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Enak dia mati tidak ada tanggungan, sedangkan suami saya mati meninggalkan dua anak yang masih kecil," pungkas Vita.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)

 

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved