Pembangunan Pabrik Bioetanol di Lampung

Pabrik Bioetanol Bisa Dongkrak Harga Singkong Petani di Lampung

Mikdar menjelaskan, Lampung menjadi salah satu daerah prioritas untuk pengembangan industri bioetanol karena merupakan penghasil singkong terbesar.

Tayang:
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Daniel Tri Hardanto
Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto
DONGKRAK HARGA SINGKONG - Anggota Komisi II DPRD Lampung Mikdar Ilyas menyambut positif rencana pembangunan pabrik bioetanol di Lampung yang menjadi bagian dari program hilirisasi pemerintah pusat. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Anggota Komisi II DPRD Lampung Mikdar Ilyas menyambut positif rencana pembangunan pabrik bioetanol di Lampung yang menjadi bagian dari program hilirisasi pemerintah pusat.

Menurut Mikdar, keberadaan pabrik bioetanol akan mendongkrak harga singkong.

Mikdar menjelaskan, Lampung menjadi salah satu daerah prioritas untuk pengembangan industri bioetanol karena merupakan penghasil singkong terbesar di Indonesia.

"Pertama, kunjungan wakil menteri (Wamen Investasi dan Hilirisasi/BKPM Todotua Pasaribu) terkait rencana pembangunan pabrik bioetanol di Provinsi Lampung tentu kami sambut dengan sangat baik. Lampung menjadi salah satu daerah prioritas pemerintah pusat untuk pembangunan pabrik bioetanol dalam rangka mendukung program hilirisasi energi yang dicanangkan Presiden," kata Mikdar, Selasa (9/6/2026).

Mikdar menjelaskan, Pemprov Lampung juga terus berupaya mendorong masuknya investasi tersebut karena dinilai sangat strategis bagi perekonomian daerah.

Ia menyebut, sekitar 70 persen produksi singkong nasional berasal dari Lampung

Karena itu, keberadaan industri pengolahan berbasis singkong akan memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan petani.

"Semakin banyak industri yang mengolah singkong, baik menjadi tepung maupun bioetanol, maka permintaan terhadap singkong akan meningkat. Dampaknya, harga singkong di tingkat petani juga berpotensi menjadi lebih baik," jelas Mikdar.

Ia menambahkan, saat ini Lampung telah memiliki regulasi yang mengatur harga singkong melalui peraturan daerah dan peraturan gubernur yang menetapkan harga minimal Rp 1.350 per kilogram untuk singkong usia panen delapan bulan.

Dengan hadirnya industri bioetanol, peluang peningkatan harga komoditas tersebut dinilai semakin terbuka.

Menurut Mikdar, bahan baku utama bioetanol berasal dari singkong, tebu, jagung, dan sorgum.

"Komoditas tersebut juga banyak dihasilkan di Lampung. Sorgum saya rasa bisa subur di Lampung sehingga program hilirisasi yang didorong pemerintah pusat dinilai sangat relevan untuk dikembangkan di daerah ini," jelasnya. 

Terkait rencana lokasi pembangunan pabrik di Pesawaran dan Lampung Selatan, Mikdar menyatakan pihaknya mendukung keputusan pemerintah.

Namun, ia berharap setidaknya salah satu pabrik dapat dibangun di kawasan sentra produksi singkong.

"Kalau masih memungkinkan, kami berharap salah satu pabrik berada di daerah penghasil singkong agar lebih dekat dengan petani dan dapat menekan biaya angkut bahan baku," katanya.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved