Berita Terkini Nasional

Abdul Karim Tewas Ditebas Celurit, Istri Sempat Larang Suaminya Terlibat Carok

Tangisan istri tak mampu menghentikan Abdul Karim pergi carok. Pria itu akhirnya tewas ditebas celurit di kebun sengon di Lumajang.

Tayang:
Kompas.com
DUEL CAROK - Saniyeh istri korban (kiri), dan polisi berjaga di rumah sakit (kanan). Abdul Karim Marzuki (55) tewas ditebas celurit di tangan adik lawannya, padahal sang istri sempat melarang suaminya carok alias duel. Tragedi berdarah yang terjadi di kebun sengon di Desa Sumberwringin, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur ini menyisakan duka mendalam sekaligus trauma hebat bagi Saniyeh, istri korban, yang melihat langsung detik-detik suaminya dihabisi. 
Ringkasan Berita:
  • Abdul Karim Marzuki tewas usai carok di Kabupaten Lumajang.
  • Istri korban sempat melarang duel karena anak-anak mereka masih sekolah.
  • Carok dipicu serempetan motor & dendam lama antar kerabat.
  • Korban tewas dengan luka bacok di kepala, lawannya kritis. Kasus ditangani Polres Lumajang.

Tribunlampung.co.id, Lumajang - Abdul Karim Marzuki (55) tewas ditebas celurit di tangan adik lawannya, padahal sang istri sempat melarang suaminya carok alias duel.

Tragedi berdarah yang terjadi di kebun sengon di Desa Sumberwringin, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur ini menyisakan duka mendalam sekaligus trauma hebat bagi Saniyeh, istri korban, yang melihat langsung detik-detik suaminya dihabisi.

Sebelum melangkah pergi membawa amarah dan sebilah celurit, Abdul Karim sebenarnya sudah diingatkan oleh sang istri agar mengurungkan niat nekatnya tersebut.

Saniyeh bahkan sempat memohon-mohon sambil mengingatkan nasib anak-anak mereka yang masih membutuhkan sosok seorang ayah.

Namun, rasa telanjur harga diri yang terusik membuat Abdul Karim menutup kuping rapat-rapat dari tangisan istrinya.

Baca juga: 2 Saudara Ipar Duel Carok di Probolinggo Gegara Masalah Token Listrik

Duel maut satu lawan satu dengan tetangga sekaligus kerabatnya sendiri, Wasil (44), tetap ia lakoni hingga berujung pada petaka yang jauh lebih mengerikan di tengah kebun.

Dikutip dari TribunnewsBogor.com, Kasat Reskrim Polres Lumajang, AKP Pras Ardinata, mengungkapkan bahwa perselisihan berdarah ini terjadi berkisar antara pukul 11.00 WIB hingga 11.30 WIB pada Kamis (21/5/2026).

Insiden carok di Desa Sumberwringin ini dipicu oleh masalah sepele di jalanan, yakni serempetan kendaraan sepeda motor.

"Kedua pihak ini awalnya berserempetan kendaraan saat melintasi jalan di sekitar kebun sengon dan terjadi cekcok mulut," kata Pras di Mapolres Lumajang.

Tidak terima dengan adu mulut tersebut, Abdul Karim yang tersulut emosi memilih pulang untuk mengambil celurit demi menantang Wasil.

Sementara Wasil sendiri saat itu memang sudah membekali diri dengan senjata tajam karena hendak mencari rumput (ngarit) untuk pakan ternak.

Lebih lanjut, AKP Pras Ardinata membeberkan bahwa gesekan di jalan tersebut disinyalir kuat merupakan puncak dari gunung es dari konflik internal yang sudah lama terpendam di antara kedua belah pihak.

"Mereka masih kategori kerabat dan tetangga dekat. Informasi dari sekitar, mereka memang masih punya dendam lama," tambah Pras.

Akibat insiden carok maut di Lumajang tersebut, Abdul Karim Marzuki meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka bacok parah di bagian belakang kepala.

Sementara lawannya, Wasil, mengalami luka robek serius di bagian perut dan kini dalam kondisi kritis di ruang perawatan intensif RSUD dr Haryoto Lumajang.

Sempat Larang Abdul Karim

Di sisi lain, Saniyeh sebenarnya sudah melarang sang suami.

"Pamit ke saya mau carok sama Wasil, saya sudah larang. Saya bilang, kasihan anaknya 2 masih sekolah, belum keluarga. Anak saya kan tiga, yang belum keluarga ada dua," katanya.

Namun, rasa amarah yang sudah memuncak membuat Abdul Karim menutup telinga. Ia menolak mentah-mentah permintaan istrinya dan bersikeras bahwa hatinya sudah bulat untuk berduel.

"Saya larang tidak bisa, bapak tetap berangkat dan bilang kalau hatinya sudah mantap (yakin) untuk carok. Saya pasrah sudah," katanya.

Khawatir dengan keselamatan suaminya, sekitar 30 menit kemudian Saniyeh memutuskan menyusul ke kebun sengon yang menjadi lokasi pertemuan sembari menggendong cucunya. Namun, pemandangan memilukan justru tersaji di depan matanya.

Di tengah kebun sengon, Abdul Karim dan Wasil sudah sama-sama bergelimpangan dan terduduk lemas di tanah menahan sakit.

Keduanya bersimbah darah dengan luka sabetan celurit yang sama-sama parah.

"Itu sudah selesai caroknya, suami saya dan lawannya duduk, sama terluka semua. Tapi suami saya tidak ada yang menolong," kata Saniyeh.

Mencekamnya situasi berubah menjadi petaka fatal ketika tiba-tiba adik kandung Wasil muncul di lokasi kejadian.

Tanpa memedulikan kondisi kedua korban yang sudah tak berdaya, adik Wasil langsung merangsek maju membawa senjata tajam.

Saniyeh yang berdiri dari kejauhan spontan berteriak histeris mencoba menghentikan aksi brutal tersebut.

"Jangan dek, itu sudah sama-sama luka, sama parahnya!" teriak Saniyeh pilu.

Nahas, teriakan itu diabaikan. Adik Wasil secara membabi buta mengayunkan celurit dan membacok bagian belakang kepala Abdul Karim Marzuki hingga korban seketika terkapar tak bernyawa di atas tanah.

Usai melancarkan aksi kejamnya, terduga pelaku langsung melarikan diri.

"Saya tidak tahu namanya siapa, dia langsung lari. Saya terus pulang mau ambil kain gendongan untuk bawa suami saya, tapi pas sampai ke sana lagi ternyata sudah meninggal," katanya.

Terkait kesaksian istri korban mengenai adanya keterlibatan adik Wasil yang melakukan pembacokan fatal di akhir duel, pihak Polres Lumajang menegaskan akan melakukan pendalaman lebih lanjut secara intensif.

Sebab, berdasarkan informasi awal yang dihimpun petugas di lapangan, peristiwa tersebut dilaporkan hanya melibatkan dua orang yang berduel satu lawan satu.

Sumber: Tribun Bogor
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved